Tiongkok Setop Beli Produk Pertanian AS, Peluang Pasar Sawit RI

Penulis: Rizky Alika

Editor: Yuliawati

8/8/2019, 12.42 WIB

Keputusan Tiongkok menghentikan pembelian dari AS, diikuti penghapusan kuota impor bagi produk pertanian, salah satunya minyak sawit.

perang dagang, sawit Indonesia peluang masuk Tiongkok
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Suasana kegiatan ekspor impor di kawasan Tanjung Priok,  Jakarta Utara (28/6). RI berpeluang memasukkan sawit ke Tiongkok, imbas perang dagang dengan AS.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Kanya Lakhsmi Sidarta mengatakan ada peluang bagi sawit Indonesia untuk masuk ke pasar Tiongkok. Peluang ini seiring dengan keputusan Tiongkok yang menghentikan pembelian produk pertanian Amerika Serikat (AS), imbas dari perang dagang kedua negara.

"Ini positif bagi siapapun yang membuka peluang. Itu kan (bisa jadi) tambahan penyerapan di luar (negeri)," kata dia di Jakarta, Rabu (7/8).

Apalagi keputusan Tiongkok tersebut diikuti oleh penghapusan kuota impor bagi produk pertanian, salah satunya minyak sawit. Selain itu, Indonesia memiliki peluang untuk menggantikan produk soya yang biasa diimpor Tiongkok dari AS.

"Karena saat ada masalah dengan AS, pasokan kedelai berkurang, dan tanpa disadari minyak (kedelainya) hilang," ujarnya.

(Baca: Imbas Perang Dagang, Tiongkok Hapus Kuota Impor 3 Komoditas Pertanian)

Bila permintaan tinggi, Kanya menilai Tiongkok dapat menurunkan bea masuk terhadap sawit Indonesia. Sebab, minyak berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat Tiongkok lantaran banyak produk masakannya yang mengandung minyak.

Meski begitu, ia belum memperhitungkan besaran potensi ekspor ke Tiongkok. Hingga kini belum ada penelitian mengenai konsumsi minyak sayur (vegetable oil) di Tiongkok.

Peluang ekspor tersebut tetap harus diupayakan meski Negeri Tirai Bambu tersebut tengah menghadapi pelemahan ekonomi. "Sekecil apa pun peluang harus dicari," ujarnya.

Di sisi lain, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian Musdhalifah Machmud juga mengatakan hal tersebut menjadi peluang yang harus dimanfaatkan bagi sawit Indonesia.

"Kalau bisa dorong supaya mereka lebih banyak konsumsi produk dari CPO," katanya.

(Baca: Hadapi Perang Dagang, Saatnya Indonesia Mengejar Vietnam)

Selain itu, ia juga mengatakan hubungan Indonesia dan Tiongkok tengah baik. Hal ini juga dapat meningkatkan peluang ekspor sawit.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan Tiongkok berencana menghapus kuota impor tiga komoditas pertanian ke negaranya, yaitu minyak kedelai (soybean), minyak rapeseed, dan minyak sawit pada Rabu (7/8). Rencana ini muncul usai keputusan Tiongkok berhenti membeli produk pertanian dari AS, imbas sentimen perang dagang.

Dikutip dari Reuters, tiga komoditas tersebut telah dihapus dari daftar rancangan kuota tarif, sebagaimana yang tercantum dalam laman resmi Kementerian Perdagangan Tiongkok. "Ini artinya, komoditas tersebut tidak dikenakan pembatasan seperti produk gandum, jagung, dan beras," demikian tertulis.

(Baca: Tergerus Perang Dagang, Cadangan Devisa Tiongkok Anjlok US$ 15 Miliar)

 

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN