Mendag Sebut Larangan Kementerian ESDM Ganggu Ekspor Nikel Rp 56 T

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ameidyo Daud

9/8/2019, 18.57 WIB

Kementerian ESDM mengatakan aturan akan diberlakukan tanpa pengecualian meski produksi bijih mineral dalam negeri nantinya melimpah.

Minerba, Ekspor, Nikel
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Deputi GM Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Sultra PT Aneka Tambang (ANTAM) Nilus Rahmat (kiri) didampingi VP CSR Kamsi (kanan) memeriksa biji feronikel siap ekspor di Pelabuhan Pomala, Kolaka, Sultra, Selasa (8/5). Realisasi penjualan feronikel tahun 2017 mencapai 21.812 ton dan pertumbuhan penjualan tahun 2018 ditarget sebesar 26 ribu ton. Mendag perkirakan ekspor terganggu US$ 4 miliar apabila kebijakan esdm diterapkan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan ekspor Indonesia bisa terdampak larangan ekspor bijih nikel (ore) oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Bahkan ia menyebut ekspor senilai US$ 4 miliar atau setara Rp 56,7 triliun dapat terganggu dengan kebijakan ESDM.

Kementerian ESDM akan melarang sepenuhnya ekspor bijih mineral mulai 2022 mendatang. Selanjutnya, pemerintah akan mewajibkan seluruh hasil produksi diolah di dalam negeri terlebih dahulu.

"Kalau (ekspor) dibatasi, tingkat ekspor kita akan terganggu US$ 4 miliar," kata dia di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8).

(Baca: Hingga Awal Juli Investasi Sektor Minerba Masih 35% dari Target)

Namun, pria yang akrab dipanggil Enggar ini memahami bahwa rencana tersebut bertujuan untuk mendorong hilirisasi mineral dalam negeri. Apalagi larangan ekspor mineral mentah juga telah diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Dalam Pasal 103 ayat (1) UU Minerba, pengolahan dan pemurnian hasil tambang wajib dilakukan di dalam negeri. Namun, ekspor ore masih dibolehkan hingga 2021.

Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sri Raharjo mengatakan aturan itu akan diberlakukan tanpa pengecualian meski produksi bijih mineral dalam negeri nantinya melimpah.

Perusahaan berbasis tambang mineral diwajibkan memiliki perencanaan yang matang untuk mengolah bahan mentah itu sebelum membangun smelter atau fasilitas pemurnian."Perusahaan tetap harus mengolah, dia (perusahaan) harus punya feasibility study saat bangun smelter," ucap Raharjo.

(Baca: Kementerian ESDM Targetkan Tiga Smelter Nikel Beroperasi Tahun Ini)

Saat ini pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam proses merevisi UU Minerba ini. Salah satu yang disampaikan pemerintah dalam revisi UU ini akan membuka kemungkinan adanya insentif pada hilirisasi sektor pertambangan.

Bukan hanya UU Minerba, revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2019 yang mengatur perpanjangan izin tambang juga sedang dilakukan. Namun, PP tersebut belum mendapatkan persetujuan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).


 

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN