Soetikno Soedarjo, Konglomerat di Pusaran Kasus Suap Garuda

Penulis: Abdul Azis Said

Editor: Hari Widowati

9/8/2019, 18.17 WIB

Soetikno mendirikan PT Mukti Rekso Abadi (MRA) Group yang memiliki bisnis multisektor, dari media, restoran kelas atas, hingga dealer mobil Ferrari.

Soetikno Soedarjo, profil Soetikno Soedarjo, kasus suap Garuda, Rolls-Royce, KPK
ANTARA FOTO/RENO ESNIR
Mantan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA), Soetikno Soedarjo, resmi menjadi tahanan KPK pada Rabu (7/8/2019).

Nama Soetikno Soedarjo langsung menjadi perbincangan publik setelah ia berstatus sebagai tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penahanannya itu merupakan hukuman atas dugaan keterlibatannya dalam suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C untuk PT Garuda Indonesia.

Gelagat suap Soetikno ini mulai terendus KPK sejak Januari 2017 sebelum akhirnya ia diciduk. KPK melakukan kerja sama dengan sejumlah lembaga anti rasuah di beberapa negara termasuk Inggris dan Singapura dalam kasus ini. Inggris pun telah menjatuhkan denda terhadap Rolls-Royce, perusahaan pengadaan mesin jet terbesar di Inggris, karena terlibat kasus suap di beberapa negara, salah satunya India.

Berangkat dari hal itulah gelagat suap perusahaan pesawat asal Inggris itu mulai dicurigai ikut melibatkan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Sebagai informasi, Emirsyah menjabat sebagai Dirut Garuda sejak Maret 2005 dan mengundurkan diri pada 2014.

Keterlibatan Soetikno dalam kasus ini adalah sebagai perantara suap antara Rolls-Royce dan Emirsyah. Selain ketiga orang itu, ada pula nama mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia periode 2007-2012. Suap itu dilakukan dengan memberikan uang sebesar Rp 20 miliar ke Emirsyah lewat perantara rekening Soetikno. Motifnya agar Rolls-Royce bisa dimenangkan dalam tender pengadaan 50 pesawat Airbus A330 selama Emirsyah menjabat.

(Baca: KPK: Ada Dokumen Baru Kasus Suap Garuda Indonesia)

Siapa sebenarnya Soetikno dan mengapa keberadaannya dalam perputaran uang haram itu menjadi sentral? Bagaimana ia bisa menjadi perantara antara dua perusahaan besar dari dua negara, yakni Rolls-Royce dan Garuda Indonesia?

Konglomerat Bisnis Media hingga Restoran Kelas Atas

Sepak terjang Soetikno di dunia bisnis berlangsung lebih dari 26 tahun. Ia mendirikan PT Mugi Rekso Abadi (MRA) pada 1993. Perusahaan multisektor ini sejak awal dirancang untuk bisnis yang menyasar masyarakat kelas premium. Perusahaannya itu memiliki beragam jenis usaha, mulai dari media penyiaran, restoran, hingga otomotif.

Bagi anak muda atau pendengar setia radio, nama MRA tidak asing karena dikenal sebagai induk usaha Hardrock FM dan Trax FM. Kedua stasiun radio ini merupakan jaringan usaha dari PT Media Network Wahana, yang tak lain adalah anak usaha dari perusahaan milik Soetikno, MRA Group. Media Network Wahana juga memiliki beberapa radio lainnya, seperti i-Radio, Brava Radio, dan Cosmopolitan FM.

Di bidang media, MRA dikenal sebagai pemilik lisensi dari majalah Cosmopolitan, media cetak bertemakan gaya hidup wanita, yang berdiri sejak 1997. Selain itu, perusahaan ini juga pernah menjadi pemilik 50% saham O Channel. Namun, sejak 2007 setengah kepemilikan saham MRA di O Channel kemudian dijual kepada Emtek Group.

Soetikno lewat jabatannya di MRA Group juga merupakan pemegang kendali atas bisnis hiburan dan gaya hidup Hardrock Cafe yang ada di Indonesia. Salah satu cabangnya yang paling dikenal adalah Hardrock Cafe Bali. Selain Bali, tempat nongkrong yang dirancang dengan gaya kelas elite ini juga berdiri di dua kota besar lainnya, Jakarta dan Bandung.

Di bisnis restoran premium, Soetikno memiliki The Cloude Lounge and Dining, serta Zoom Bar and Lounge. Bisnis lainnya adalah jaringan gerai es krim Haagen-Dazs yang tersebar di beberapa mal Jakarta.

Melalui situs resmi MRA, baru-baru ini MRA mengumumkan kerja sama dengan Garuda Indonesia dalam bentuk pemberian diskon belanja di beberapa outlet MRA. Misalnya, diskon di Cloud Lounge and Dining, Hardrock Cafe Bali dan Jakarta, dengan syarat menunjukkan boarding pass tiket penerbangan domestik ataupun internasional Garuda.

Soetikno Soedarjo
Soetikno Soedarjo (ANTARA FOTO/INDRIANTO EKO SUWARSO)



Kepiawaian Soetikno menjalankan bisnisnya juga dibuktikan di bisnis otomotif. Lewat anak usahanya PT Mabua Motor Indonesia, perusahaan ini menjadi distributor Harley-Davidson di Indonesia. Anak usahanya yang lain, yaitu PT Parama Unggul Otomotif, menjadi agen penjual mobil Ferrari di Indonesia.

Sebelum berhenti menjadi distributor bagi kedua merek itu pada 2016, kedua perusahaan tersebut menjadi penyumbang terbesar atas pendapatan MRA Group, yakni sebesar 35-40%. MRA juga menjadi pemilik PT Genta Surya Otomotif, perusahaan yang mendistribusikan mobil Abarth di Indonesia sebelum diakuisisi oleh PT Ford Motor Indonesia pada 2016.

Tak cukup di Indonesia, Soetikno juga melakukan ekspansi bisnis ke negara tetangga, Singapura. Perusahaannya itu memiliki nama Connaught International Pte Ltd, yang bergerak dalam bidang konsultan bisnis untuk penjualan pesawat dan mesin pesawat di Indonesia. Lewat perusahaan inilah Soetikno bertemu dengan Garuda dan Rolls-Royce.

(Baca: Emirsyah Satar, Pemoles Garuda yang Jadi Tersangka KPK)

Darah Bisnis Soetikno Diturunkan kepada Tiga Putrinya

Soetikno juga sukses menurunkan kepiawaian bisnisnya kepada tiga putrinya. Tak banyak catatan terkait latar belakang keluarganya. Mantan istri Soetikno, Dian Muljadi, juga memiliki darah bisnis dari sang ayah. Dian merupakan putri dari salah satu taipan Indonesia di bisnis farmasi, Kartini Muljadi, yang memiliki PT Tempo Scan Pacific Tbk. Menurut rilis Forbes pada 2018, mantan mertua Soetikno itu merupakan wanita terkaya nomor dua di Indonesia.

Ketiga anak Sutikno juga terjun ke dunia bisnis untuk meneruskan usaha yang dirintis ayahnya. Anak sulungnya, Putri Soedarjo, sukses mengelola bisnis perhiasan bermerek Bvlgari dan menjadi peritel produk elektronik dan aksesoris ponsel, Bang & Olufsen.

Putri kedua Soetikno, Mita Soedarjo, melanjutkan bisnis media cetak sang ayah, yaitu Cosmopolitan dan Harper’s Bazaar edisi Indonesia. Sementara anak bungsunya, Dita Soedarjo, kecipratan bisnis es krim Haagen Dazs yang sudah memiliki beberapa cabang di beberapa mal besar di Jakarta. Selain itu, Dita juga merilis bisnis barunya di bidang kecantikan, dimulai dari produk bulu mata palsu bermerek D'licate. Dita juga memiliki bisnis fesyen dengan merek Woman Dignity.

(Baca: KPK Usut Puluhan Rekening Bank Luar Negeri di Kasus Rolls-Royce Garuda)

Penulis: Abdul Azis Said (Magang)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha