Biaya Penambangan Naik, Laba Bersih Indo Tambangraya Anjlok 31%

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ekarina

12/8/2019, 20.34 WIB

Beban pokok pendapatan ITMG sebagian besar disumbang oleh biaya penambangan sebesar US$ 379,95 juta.

pertambangan

Emiten pertambangan, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan penurunan laba bersih pada semester I 2019 sebesar 31% menjadi US$ 70,82 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 102,95 juta. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh naiknya beban pokok pendapatan dari biaya penambangan.

Dalam laporan keuangan perusahaan yang dirilis, Senin (12/8) menunjukkan, kendati laba bersih anjlok, perusahaan sempat mencatat kenaikan pendapatan 10,36% menjadi US$ 892,70 juta pada enam bulan pertama tahun ini. Sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan perseroan tercatat US$ 808,89 juta.

(Baca: Kebijakan Harga US$ 70 per Ton Masih Positif Bagi Emiten Batu Bara)

Sayangnya, kenaikan itu juga diikuti dengan lonjakan beban pokok pendapatan sebesar 25,2% menjadi US$ 730,30 juta dari US$ 583,15 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, diketahui bahwa beban pokok pendapatan sebagian besar disumbang oleh biaya penambangan sebesar US$ 379,95 juta. Angka melonjak hingga 37,5% dibandingkan beban penambangan periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$ 276,24 juta.

(Baca: 34 Perusahaan Ajukan Kenaikan Produksi Batu Bara)

Tak hanya biaya penambangan, biaya produksi ITMG juga ikut terkerek. Kenaikan mencakup beberapa biaya seperti biaya transportasi batu bara, perawatan dan pemeliharaan, bahan bakar dan minyak, termasuk sewa peralatan. Kenaikan beban pokok pendapatan tersebut membuat laba kotor ITMG hanya US$ 162,10 juta, turun 28,0% dibandingkan dengan US$ 225,74 juta secara tahunan. 

Perusahaan juga tercatat mengalami penurunan jumlah aset pada semester lalu sebesar 8% menjadi US$ 1,32 miliar dari semester I 2018 sebesarUS$ 1,44 miliar.

Jumlah aset lancar perusahaan juga turun 17,5% menjadi US$ 631,67 juta dari US$ 766,45 juta. Sementara, jumlah aset tidak lancar mereka naik tipis 2,4% menjadi US$ 692,52 juta dari US$ 676,27 juta.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan