Ekspor CPO Terhambat, Pemerintah Lirik Pasar Baru di Amerika Selatan

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ratna Iskana

13/8/2019, 12.21 WIB

Perluasan pasar tersebut dilakukan lantaran adanya hambatan ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya ke Uni Eropa.

kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani memanen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan kelapa sawit di Desa Delima Jaya, Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau. Adanya hambatan ekspor kelapa sawit ke Uni Eropa membuat Pemerintah mencari pasar baru hingga Amerika Selatan.

Pemerintah tengah menjajaki pasar ekspor minyak kelapa sawit ke Amerika Selatan. Direktur Amerika II Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Darianto Harsono mengatakan, Indonesia memiliki peluang ekspor ke Argentina, Columbia, dan Ekuador.

Selain itu, ekspor minyak kelapa sawit akan dilakukan menuju Chili. Hal ini sejalan dengan penerapan kerja sama Perjanjian Dagang Indonesia-Chili Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA). Adapun, ekspor kelapa sawit menuju Chili mendapatkan fasilitas bea masuk dengan tarif 0%. 

"Kami coba meminta mereka untuk meningkatkan impor kelapa sawit dari Indonesia," kata Darianto di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Jakarta, Senin (12/8). 

Meski begitu, Darianto belum memperhitungkan potensi permintaan dari seluruh negara tersebut. "Yang jelas ada potensi cukup besar tapi belum dilirik pengusaha Indonnesia," ujarnya.

(Baca: Balas Serangan Biodisel Eropa, Mendag Usul Pengenaan Tarif 25% Susu )

Perluasan pasar tersebut dilakukan lantaran adanya hambatan ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya ke Uni Eropa. Uni Eropa mengajukan proposal bea masuk anti-subsidi sementara dengan rentang marjin 8-18% untuk biodiesel Indonesia.

Penyebabnya, Uni Eropa menilai pemerintah Indonesia memberikan fasilitas subsidi yang melanggar ketentuan WTO kepada produsen/eksportir biodiesel. Hal ini mempengaruhi harga ekspor biodiesel ke Uni Eropa.

Selain itu,Uni Eropa memberlakukan aturan arahan energi terbarukan atau Renewable Energy Directive II (RED II) pada Mei lalu. Aturan itu menyatakan, konsumsi bahan bakar nabati berisiko tinggi di Uni Eropa akan dibatasi pada 2020-2023.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor CPO dan turunannya ke Benua Biru terus tergerus. Pada April 2019, ekspor CPO dan turunannya ke Uni Eropa turun 37% menjadi 315,24 ribu ton dibandingkan Maret 2019 sebesar 498,24 ribu ton. Kemudian pada Mei kembali melorot 4% menjadi 302,16 ribu ton dibandingan April 2019.

(Baca: Tiongkok Setop Beli Produk Pertanian AS, Peluang Pasar Sawit RI)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN