Kajian Inovasi Pembiayaan Restorasi Gambut

Penulis: Tim Publikasi Katadata

13/8/2019, 16.03 WIB

Badan Restorasi Gambut saat ini sedang melakukan kajian terkait inovasi pembiayaan restorasi gambut.

Lahan Gambut
Katadata

JAKARTA --- Badan Restorasi Gambut saat ini sedang melakukan kajian terkait inovasi pembiayaan restorasi gambut. Kajian bertujuan mencari mekanisme-mekanisme pendanaan restorasi gambut yang lebih efektif dan berkelanjutan, baik berupa hibah, investasi, pinjaman, maupun campuran dari ketiganya. Hingga saat ini, pembiayaan untuk restorasi gambut masih berasal dari APBN dan beberapa hibah dari mitra pembangunan, baik bilateral, multilateral, maupun lembaga filantropis.

 

Pendanaan ini belum mencukupi untuk pelaksanaan restorasi gambut di tujuh provinsi. Menurut perhitungan BRG, seperti tertuang dalam buku Cegah Kebakaran Hutan, Tiga Tahun Pelaksanaan Restorasi Gambut, Badan Restorasi Gambut, terbitan Januari 2019, total kebutuhan pendanaan untuk program koordinasi dan fasilitasi restorasi ekosistem gambut di tujuh provinsi selama periode 2016-2020 mencapai Rp 10,6 triliun.

 

Deputi Bidang Perencanaan dan Kerjasama BRG, Budi S. Wardhana, menyampaikan bahwa masih diperlukan sumber dan mekanisme pendanaan lain di luar APBN dan hibah luar negeri. Di antaranya, mengajak kolaborasi dari dunia usaha melalui kegiatan ekonomi ramah gambut dan pemanfaatan jasa lingkungan, dengan menerapkan skema kemitraan dengan masyarakat.

 

BRG tengah melakukan kajian meknisme pendanaan dan hasil kajian ini diharapkan dapat menarik lembaga-lembaga pendanaan, tak hanya pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun juga sektor swasta dan perbankan. Dengan mekanisme pendanaan dan investasi yang menarik, diharapkan sistem bisnis perusahaan-perusahaan swasta yang awalnya bersifat eksploitasi menjadi lebih ramah lingkungan, khususnya yang berada di lahan gambut.

 

“Siapa yang berminat mendanai, mekanisme apa yang dibutuhkan untuk hal semacam itu, apakah biaya yang muncul akibat metode produksi baru itu dapat ditutup dengan pendapatan tambahan yang muncul karena kegiatan ramah lingkungan. Atau jika menghasilkan produk baru, apakah ada pasarnya atau tidak. Lalu, kalau membutuhkan pendanaan, bentuknya seperti apa, investasi, pinjaman, atau bentuk-bentuk lainnya. Hal-hal ini yang sedang berusaha kami kaji,” kata Budi saat ditemui di ruang kerjanya.

 

Salah satu hasil sementara dari kajian ini adalah perhitungan satuan biaya dan kontribusi luasannya untuk restorasi gambut. Setiap pembiayaan senilai US$ 1.000 memberikan kontribusi restorasi hidrologis lahan gambut seluas 1,7 hektare. Ini berarti pula mengurangi potensi kerugian ekonomi sebesar US$ 485 dan menyelamatkan 0,8 hektare lahan dari kebakaran. Pembiayaan sejumlah itu juga bernilai potensi kredit karbon sebesar US$ 465 serta mampu meningkatkan penghasilan masyarakat setempat 3,5 kali lipat lebih tinggi.

 

Kajian ekonomi restorasi mencakup pula analisis bisnis ramah gambut berkelanjutan dan strategi perluasan area dan jangkauan program restorasi gambut.

 

Memasuki tahun keempat ini, BRG berusaha meningkatkan upaya mengejar target restorasi gambut di tujuh provinsi. Sesuai dengan tugas dan fungsinya, BRG ditargetkan melakukan restorasi gambut seluas 2,67 juta hektar hingga 2020 secara bertahap dan berkesinambungan. Dari luas itu, 1,7 juta hektare berada di dalam areal konsesi kehutanan dan perkebunan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha