Mengenal Berdikari, BUMN yang Impor Ribuan Ton Daging dari Brasil

Penulis: Ekarina

Editor: Yuliawati

14/8/2019, 19.52 WIB

Dalam perjalanannya, perusahaan kerap mengalami pasang surut. Beberapa tahun terakhir, PT Berdikari bahkan mengalami permasalahan yang kompleks.

impor daging sapi, Brasil, Berdikari
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi impor daging. PT Berdikari akan mengimpor 10 ribu ton daging sapi dari Brasil.

Pemerintah berencana kembali membuka impor daging sapi melalui tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk, yakni PT Berdikari (Persero), Perum Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). PT Berdikari sendiri akan mengimpor sekitar 10 ribu ton daging sapi dari Brasil secara bertahap mulai bulan depan hingga akhir tahun.

Mengutip situs perusahaan, PT Berdikari telah berdiri sejak 1966 dengan nama PT Pilot Proyek Berdikari berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet Ampera Republik Indonesia No. 01/EK/KEP/1966 tanggal 12 Agustus 1966.

Perusahaan ditunjuk sebagai BUMN Peternakan pada 2012. Sebagai BUMN peternakan, perseroan mempunyai tugas menjadi perusahaan penyedia pangan protein bagi masyarakat, perusahaan buffer stock (penyedia bibit) untuk peternakan rakyat dan menjadi perusahaan rujukan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan strategis terutama harga.

(Baca: Keran Impor Dibuka, Berdikari Bawa 10 Ribu Ton Daging Sapi Brasil)

Dalam perjalanannya, perusahaan kerap mengalami pasang surut. Beberapa tahun terakhir, PT Berdikari bahkan mengalami permasalahan yang kompleks.

Salah satu masalah yang mengguncang perseroan yakni ketika pada 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut kasus korupsi pengadaan pupuk urea tablet di Perum Perhutani Unit 1 Jawa Tengah, tahun Anggaran 2010-2011 dan 2012-2013.

Dua Direktur Utama (Dirut) Berdikari yakni Asep Sudrajat Sanusi (periode 2010-2011) dan Librato El Arif (periode 2012-2013) ditetapkan sebagai tersangka suap. KPK menyeret dua dirut tersebut dari pengembangan kasus gratifikasi sebelumnya terkait pengadaan pupuk, yakni Direktur PT Berdikari periode 2010-2012, Siti Marwa yang sudah divonis 4 tahun penjara.

Sebelum munculnya persoalan hukum, perusahaan juga tercoreng karena tindakan wanprestasi anak usahanya, Berdikari Insurance yang mengalami gagal bayar klaim pertanggungan atas nasabah, PT Kaltim Daya Mandiri (KDM), yang merupakan anak usaha dari PT Pupuk Kaltim.

Sebagai pemegang polis PT KDM mengajukan klaim asuransi atas kerusakan gas turbine generator kepada Berdikari Insurance senilai Rp 38 miliar. Namun, Berdikari Insurance mengingkari perjanjian dan tidak membayarkan pertanggungan.

Pembenahan Berdikari di Bisnis Impor

Mulai 2017 perusahaan berupaya memperbaiki kinerja perusahaan. Perusahaan mencoba lebih fokus kepada bisnis peternakan karena hingga akhir tahun 2017 kondisi keuangan dan modal kerja yang masih belum menunjukkan perbaikan. Beberapa strategi yang sudah dilakukan perusahaan di antaranya melakukan pola kerjasama dengan cara sinergi BUMN, kemitraan dan perbaikan proses bisnis.

Kemudian, pada Maret 2018 PT Berdikari mulai mengembangkan bisnis ayam yang diawali dengan impor GPS (Grand Parent Stock) sebanyak 36 ribu ekor. Sampai saat ini, PT Berdikari masih fokus dalam bidang peternakan ayam terintegrasi.

Peternakan GP sudah mulai menghasilkan DOC (Day Old Chick) PS (Parent Stock) yang didistribusikan kepada peternak pembibitan rakyat dan tersebar di pulau Jawa serta wilayah lain di seluruh Indonesia.

Saat ini, Berdikari telah memiliki 2 kandang GPS, yaitu peternakan yang terletak di Tasikmalaya Jawa Barat dan Pasuruan, Jawa Timur. Peternakan Tasikmalaya mempunyai luas 25 hektare,sedangkan untuk yang Pasuruan mempunyai luas 6,5 hektar.

Sementara untuk bisnis sapi, perusahaan bersinergi dengan PT Taspen pada program kemitraan usaha penggemukan sapi dengan kelompok ternak. Pada kemitraan tersebut, Berdikari berperan sebagai pengelola dana kemitraan dan bekerjasama dengan pemerintah daerah, dinas peternakan dan kelompok tani ternak yang terpilih.

(Baca: Buntut Kekalahan Gugatan di WTO, Indonesia Buka Impor Ayam dari Brasil)

Pada 2018, perseroan juga memperoleh penugasan dari pemerintah untuk mengimpor daging kerbau beku dari India dengan jumlah sekitar 20 ribu ton.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, pada 2018 perusahaan mencatat pendapatan Rp 1,38 triliun, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya Rp 113 miliar. Pendapatan sebagian besar disumbang oleh bisnis industri makanan sebesar Rp 1,18 triliun dan bisnis peternakan senilai Rp 34,4 miliar.

Seiring meningkatnya penjualan laba kotor perusahaan pun tumbuh berlipat menjadi Rp 82 miliar dari yang sebelumnya Rp 14,3 miliar. Namun, karena beban usaha dan beban lain-lain yang meningkat, menyebabkan laba bersih perseroan tergerus menjadi Rp 29,1 miliar dari yang sebelumnya Rp 193 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha