Lima Negara Ekonomi Besar Terancam Resesi

Penulis: Agustiyanti

15/8/2019, 19.08 WIB

Inggris, Italia, Jerman, Brasil, dan Meksiko berisiko mengalami resesi di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global akibat perang dagang.

bursa saham, resesi
ANTARA FOTO/REUTERS/Issei Kato
Ilustrasi bursa saham global. Inggris, Italia, Jerman, Brasil, dan Meksiko tengah berisiko mengalami resesi di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global akibat perang dagang.

Lima negara ekonomi besar berisiko mengalami resesi. Kelima negara tersebut yakni Inggris, Italia, Jerman, Brasil, dan Meksiko.

Ekonomi Inggris menurun pada kuartal kedua, sedangkan pertumbuhan ekonomi Italia mengalami stagnan. Adapun data yang baru dirilis pada Rabu (14/8) menunjukkan ekonomi Jerman terkontraksi pada April hingga Juni 2019.

"Intinya adalah ekonomi Jerman tertatih-tatih di tepi resesi," kata Andrew Kenningham, Kepala Ekonom Eropa di Capital Economics, seperti dikutip dari CNN, Kamis (15/8).

Data juga menunjukkan perekonomian Brasil melemah pada kuartal II. Sementara itu, Meksiko baru saja terhindar dari resesi, tetapi ekonominya diperkirakan tetap lemah pada tahun ini.

(Baca: Singapura Terancam Resesi Ekonomi Akibat Perang Dagang AS-Tiongkok)

Resesi didefinisikan dengan penurunan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut. Adapun kelima negara tersebut saat ini masuk dalam kategori 20 negara dengan perekonomian terbesar atau G20.

Sementara itu, Singapura dan Hong Kong yang perekonomiannya lebih kecil tetapi merupakan hub keuangan dan perdagangan internasional juga berada dalam masa sulit.

Di tengah penurunan ekonomi beberapa negara akibat sejumlah faktor, kemerosotan manufaktur global dan penurunan tajam kepercayaan bisnis memperburuk keaadan.

Pertumbuhan ekonomi Cina mengalami perlambatan, paling dalam pada tiga dekade terakhir akibat perang dagang yang berkepanjangan dengan Amerika Serikat.

(Baca: Ancaman Resesi Seret Wall Street Turun, Bursa Asia Ikut Rontok)

IMF pada bulan lalu memangkas perkiraan pertumbuhan global pada tahun ini menjadi 3,2%, tingkat pertumbuhan terendah sejak 2009.

Jerman sangat bergantung pada ekspor antara lain ke Tiongkok dan Amerika Serikat. Kinerja buruk penjualan mobil global juga melanda produsen mobil asal negara tersebut.

"Laporan PDB hari ini jelas menandai akhir dekade emas bagi ekonomi Jerman," kata Carsten Brzeski, kepala ekonom di Jerman di bank Belanda ING.

Sementara kekhawatiran Brexit yang kacau juga ikut menyeret ekonomi Jerman, selain memberikan dampak paling besar pada perekonomian Inggris, yang untuk pertama kalinya turun sejak 2012.

(Baca: Terancam Resesi, Singapura Negara Penanam Modal Terbesar di Indonesia)

Ekonomi Inggris harus pulih pada kuartal ketiga dan menghindari resesi langsung. Namuun, jika Perdana Menteri Boris Johnson menarik negara itu keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan untuk melindungi perdagangan pada tanggal 31 Oktober, sebuah resesi kemungkinan tidak terhindarkan.

Di Italia, produktivitas yang lemah, pengangguran kaum muda yang tinggi, utang yang besar, dan kekacauan politik menjadi penyebab kelesuan yang berkelanjutan.

Investasi menurun di Meksiko dan sektor jasa negara itu di bawah tekanan. Brasil, ekonomi terbesar di Amerika Latin, juga menurun akibat produksi industri yang lemah dan pengangguran yang tinggi. Data yang akan datang dalam beberapa minggu ke depan akan mengkonfirmasi apakah ekonomi negara tersebut telah jatuh ke dalam resesi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan