ESDM Sebut Ekspor Migas Turun Karena Konsumsi Gas Dalam Negeri Tinggi

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Happy Fajrian

16/8/2019, 19.19 WIB

Menurut data Kementerian ESDM, konsumsi gas dalam negeri mencapai 65% dari total produksi.

kementerian esdm, esdm, ekspor migas, konsumsi gas
Katadata
Ilustrasi unit pengolahan gas alam cair Blok Tangguh. Kementerian ESDM mengklaim bahwa turunnya ekspor migas lantaran konsumsi gas yang tinggi untuk kebutuhan domestik yang mencapai 65% dari total produksinya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa tingginya konsumsi gas di dalam negeri menjadi salah satu faktor yang membuat ekspor minyak dan gas bumi (migas) pada periode Januari-Juli 2019 mengalami penurunan.

Total ekspor migas Indonesia pada periode tersebut tercatat sebesar US$ 7,72 miliar. Jumlah tersebut lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 9,86 miliar, sehingga turut berkontribusi dalam memperdalam defisit neraca perdagangan yang pada Juli 2019 sebesar US$ 60 juta.

Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Djoko Siswanto mengatakan bahwa konsumsi gas dalam negeri cukup tinggi, yakni mencapai 65,4% dari total produksinya. Oleh karena itu, dia mengatakan tidak adil jika migas selalu menjadi kambing hitam atas defisit neraca perdagangan.

(Baca: Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II Tembus 3% PDB Akibat Tiga Faktor)

"Sekarang (konsumsi) sudah mencapai angka 65,4% (dari produksi), kita gunakan gas untuk domestik sebagai modal pembangunan, ciptakan lapangan kerja agar sektor yang lain tidak impor," kata Djoko di Kantor Gedung Migas Jakarta, Jumat (16/8).

Menurut Djoko, sektor migas jangan hanya saja dihitung sebagai komoditi untuk ekspor. Namun juga bisa dilihat sebagai penunjang bagi industri nonmigas dalam negeri lainnya. Kalau gas semakin banyak digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, baik untuk industri petrokimia, pupuk dan lainnya sebagai bahan baku, maka ekspor gas akan berkurang. 

Sehingga defisit neraca perdagangan akan bertambah. "Kalau hanya melulu ingin perbaiki neraca perdagangan yaudah semua gas kita ekspor aja tapi hasilnya apa kalau semua gas diekspor, pupuknya impor semua, pabrik petrokimia tutup karena bahan bakunya gas, akhirnya produk petrokimia kita impor, mau begitu?," ujar Djoko.

Maka dari itu Djoko menegaskan kembali jika persoalan sektor migas perlu dipahami secara komprehensif. Pasalnya dalam negeri juga masih membutuhkan dan bergantung pada komoditas migas. "Kebijakan sektor kita bahwa energi itu sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, untuk modal pembangunan. Nah ini kita lakukan konsisten," ujarnya.

(Baca: Neraca Perdagangan Juli 2019 Kembali Defisit US$ 60 Juta)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN