Pasar Tunggu Jokowi Pidato Nota Keuangan dan APBN 2020, Rupiah Menguat

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Desy Setyowati

16/8/2019, 08.36 WIB

Investor khawatir dengan perkembangan perekonomian global.

rupiah menguat
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Ilustrasi dolar AS. Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan hari ini.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal menyampaikan nota keuangan serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR pada hari ini (16/8). Mengutip dari Bloomberg, nilai tukar rupiah pun dibuka menguat 0,06% menjadi Rp 14.265 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat ini.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengungkapkan, investor menunggu pembacaan nota keuangan dan APBN 2020. "Khususnya terkait asumsi makro dan kebijakan yang akan ditempuh pemerintah tahun depan," katanya kepada Katadata.co.id, Jumat (16/8).

Selain itu, Bhima menilai investor masih kecewa dengan hasil defisit neraca perdagangan Juli ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2019 mengalami defisit US$ 63,5 juta. Kondisi tersebut memburuk dibanding bulan lalu yang mencatatkan surplus US$ 200 juta. Meski begitu, nilai ini membaik dibanding Juli 2018 yang defisit US$ 2,03 miliar.

(Baca: Paling Perkasa di ASEAN, Rupiah Menguat ke 14.245 per Dolar AS)

Investor khawatir deficit neraca ekspor-impor akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini. Kekhawatiran tersebut, menurutnya menyurutkan niat investor untuk lebih agresif di pasar modal. "Faktor pelemahan domestik, sentimen negatifnya dari rilis neraca perdagangan Juli yang mencatatkan defisit sebesar US$63,5 juta,” katanya.

Bhima pun memperkirakan, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini berisiko melemah ke level Rp 14.300 per dolar AS. Selain karena ada beberapa faktor domestik, menurutnya pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan juga oleh kondisi global.

Dari sisi global, investor dinilai ia masih berhati-hati melihat arah kurva imbal hasil US Treasury (Yield Curves Treasury). Sebab, data ini menjadi indikasi adanya gejala resesi di AS, protes di Hong Kong, dan melambatnya indikator perekonomian negara maju, khususnya Uni Eropa.

(Baca: Yen Melemah, Rupiah Ikut Loyo ke 14.325 per Dolar AS)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan