Rupiah Menguat ke 14.235 per Dolar AS Meski Perang Dagang Memanas

Penulis: Agustiyanti

19/8/2019, 16.47 WIB

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini menguat tipis 2,5 poin atau 0,02% dari posisi kemarin ke level 14.235 per dolar AS.

rupiah, dolar as, nilai tukar, perang dagang
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi dolar AS. Rupiah pada perdagangan sore ini menguat ke level Rp 14.235 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini menguat tipis 2,5 poin atau 0,02% dari posisi kemarin ke level 14.235 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan tipis rupiah antara lain didorong oleh sentimen perang dagang AS dan Tiongkok yang kian berlarut-larut dan target pemerintah dalam RAPBN 2020.

Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rated (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp 14.203 per dolar AS, menguat 55 poin dari posisi akhir pekan lalu Rp 14.258 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, sebagian mata uang Asia menguat tipis terhadap dolar AS. Baht Thailand menguat 0,23%, ringgit Malaysia 0,03%, peso Filipina 0,09%, won Korea menguat 0,03%, dan dolar Taiwan menguat 0,05%. Sementara yuan Tiongkok melemah 0,05%, dolar Singapura 0,04%, dolar Hong Kong 0,01%, dan yen Jepang 0,18%.

(Baca: Tepis Resesi, Trump Tegaskan Perang Dagang Tak Ganggu Ekonomi AS)

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan dalam perdagangan hari ini, rupiah sempat menguat ke level Rp 14.180 per dolar AS, sebelum akhirnya bertengger di level Rp 14.235 per dolar AS.

"Dalam perdagangan siang ini rupiah sempat menguat di level Rp 14.180 per dolar AS didukung oleh data internal walaupun melemah tipis sore ini," ujar Ibrahim.

Ibrahim menjelaskan walaupun kondisi ekonomi global tengah bermasalah akibat perang dagang, pidato Presiden Joko Widodo terkait RAPBN 2020 menunjukkan optimisme dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%.

"Optimisme PDB sukses membuat arus modal kembali masuk ke Indonesia sehingga pasar kembali mengoleksi aset berisiko terutama rupiah," jelas dia.

(Baca: Trump Tak Ingin AS Berbisnis dengan Huawei)

Saat ini, menurut dia, terdapat sejumlah sentimen global yang turut mempengaruhi rupiah. Salah satunya, pernyataan Trump yang menyebut belum siap bersepakat dengan Tiongkok dan tak ingin AS bekerja sama dengan Huawei. Di samping itu, pelaku pasar tengah tertuju pada sikap Federal Reserve menanggapi kekhawatiran resesi ekonomi.

"Pelaku pasar juga akan berhatip-hati menjelang debut suku bunga acuan baru Tiongkok pada Selasa yang diumumkan pekan lalu. Analis percaya reformasi akan membuka pintu pemangkasan suku bunga," terang dia.

Ibrahaim memperkirakan rupiah pada perdagangan besok akan bergerak di level Rp 14.177 per dolar AS hingga Rp 14.288 per dolar AS, terutama dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal, seperti perang dagang.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN