Harga Minyak Dunia Melonjak 2% Pascaserangan Ladang Minyak Arab Saudi

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Happy Fajrian

20/8/2019, 09.19 WIB

Kenaikan harga minyak sedikit tertahan kekhawatiran pelemahan ekonomi global yang akan membuat permintaan turun.

harga minyak
Chevron
Harga minyak mentah dunia naik 2% menyusul serangan pasukan Houthi Yaman ke ladang minyak milik Arab Saudi pada Sabtu (17/8) yang dikhawatirkan akan mengancam pasokan minyak dunia.

Harga minyak naik sekitar 2% pada perdagangan Senin atau Selasa pagi waktu Indonesia setelah fasilitas lapangan minyak milik Arab Saudi diserang oleh pasukan Houthi Yaman pada Sabtu (17/9). Serangan tersebut dikhawatirkan akan mengancam pasokan minyak mentah dunia.

Mengutip Reuters, harga minyak berjangka Brent menetap di level US$ 59,74 per barel, naik US$ 1,10, atau 1,88%. Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berada pada level US$ 56,21 per barel, naik US$ 1,34, atau 2,44%.

Sedikit meredanya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok setelah AS memperpanjang masa tenggang hukuman kepada Huawei Technologies sehingga dapat tetap membeli komponen teknologi dari perusahaan asal AS selama 90 hari kedepan juga turut menopang harga minyak.

Serangan ladang minyak Arab Saudi dilakukan dengan pesawat tak berawak oleh kelompok Houthi di ladang minyak di Arab Saudi timur pada akhir pekan menyebabkan kebakaran di sebuah pabrik gas. Serangan tersebut tersebut menambah ketegangan di Timur Tengah. Namun produksi minyak yang dikelola Saudi Aramco dikatakan tidak terpengaruh.

(Baca: Harga Minyak Menguat 0,8% Dipicu Ketegangan Timur Tengah)

"Pasar minyak tampaknya kembali terpengaruh oleh risiko geopolitik menyusul serangan pesawat tak berawak akhir pekan ke Arab Saudi. Namun risiko ini tidak akan berpengaruh lama jika tidak mengganggu supplai minyak," kata analis minyak UBS, Giovanni Staunovo, dilansir dari Reuters.

Sementara itu keteganggan di Timur Tengah sedikit mereda terkait dilepasnya kapal tanker minyak milik Iran oleh Gibraltar. Sebelumnya Pemerintah Gibraltar menahan kapal minyak milik Iran berdasarkan kecurigaan kapal tersebut akan mengantarkan minyak mentah ke Suriah yang saat ini terkena sanksi dari Uni Eropa.

Padahal, kapal tersebut memiliki tujuan akhir Yunani. Iran pun memperingatkan AS yang telah melobi Gibraltar untuk kembali menahan kapal tersebut karena Iran telah melanggar sanksi AS atas tuduhan pencucian uang dan dukungan terhadap aksi terorisme.

Meningkatnya harapan bahwa ekonomi global akan mengatasi ancaman resesi ekonomi global juga turut membantu kenaikan harga minyak, yang seringkali mengikuti kenaikan harga saham.

(Baca: Dapat Angin Segar dari Tiongkok dan Jerman, Bursa Saham AS Naik Tinggi)

Harapan tersebut didukung oleh kebijakan Bank Sentral Tiongkok yang memangkas suku bunga untuk menurunkan bunga pinjaman dan stimulus dari Jerman yang meninggalkan kebijakan anggaran berimbangnya untuk mendorong ekonomi.

Namun kenaikan harga minyak mentah dunia dibatasi oleh laporan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan permintaan minyak.

OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global pada 2019 sebesar 40.000 barel per hari (bph) menjadi 1,10 juta barel per hari dan mengindikasikan pasar akan mengalami kelebihan supplai pada 2020 mendatang.

(Baca: Antisipasi Harga Minyak Naik, Ketua DPD Usul Pemerintah Bangun PLTN)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN