LPEI Salurkan Pembiayaan Infrastruktur di Afrika Sebesar Rp 5 Triliun

Penulis: Happy Fajrian

21/8/2019, 10.11 WIB

Pembiayaan yang disalurkan untuk membiayai infrastruktur Afrika berpotensi melonjak menjadi US$ 640 juta atau Rp 9,2 triliun.

lpei, indonesia eximbank, pembiayaan infrastruktur, afrika
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi pembangunan infrastruktur. LPEI atau Indonesia Eximbank menyalurkan pembiayaan infrastruktur ke kawasan Afrika sebesar Rp 5,07 triliun dalam bentuk buyer's credit.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Indonesia Eximbank) memberikan pembiayaan proyek infrastruktur strategis di Afrika. Kesepakatan bisnis sebesar US$ 356 juta (sekitar Rp5,07 triliun asumsi kurs Rp 14.242 per dolar AS) ​​​​telah ditandatangani LPEI dengan PT Wijaya Karya (WIKA) untuk proyek infrastruktur tersebut.

Direktur Eksekutif LPEI Shintya Roesly menjelaskan bahwa pembiayaan tersebut diberikan melalui fasilitas buyer’s credit, yang terdiri dari US$ 40 juta dolar untuk proyek pembangunan pelabuhan terminal cair (bulk liquid terminal) di Zanzibar, Tanzania.

Kemudian sebesar US$ 250 juta untuk pembangunan kawasan bisnis terpadu (mixed used complex - Goree Tower) di Senegal; serta US$ 66 juta dolar AS untuk pembangunan rumah susun (social housing) di Pantai Gading.

 “Kami sedang galakkan buyer’s credit, terutama untuk proyek-proyek yang nilainya besar,” ujarnya di sela-sela Dialog Infrastruktur Indonesia-Afrika (IAID) 2019 di Nusa Dua, Bali, Selasa (20/8).

(Baca: Jokowi Setuju Tambah Modal LPEI Rp 2,5 Triliun untuk Genjot Ekspor)

Shinta mengatakan bahwa nilai kesepakatan bisnis tersebut masih dapat ditingkatkan menjadi US$ 640 juta, yakni untuk proyek pembangunan pelabuhan terminal di Zanzibar sebesar US$ 190 juta dan proyek pembangunan rumah susun di Pantai Gading sebesar US$ 200 juta.

Menurut Shinta, LPEI memiliki kapasitas untuk dapat mendukung WIKA dalam menggarap proyek-proyek tersebut. Dia juga mengungkapkan, selain dengan WIKA, LPEI juga menjalin kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Kerja sama dengan PTDI nantinya akan mencakup pembiayaan modal kerja kepada perusahaan kedirgantaraan tersebut, maupun fasilitas buyer’s credit untuk calon konsumen PTDI di kawasan Afrika.

Ketiga proyek pembangunan infrastruktur WIKA di Afrika merupakan salah satu bentuk ekspor jasa, sedangkan kerja sama dengan PTDI merupakan ekspor barang yang juga dapat difasilitasi dengan skema buyer’s credit.

(Baca: Gara-gara Duniatex Gagal Bayar Utang, NPL LPEI Naik jadi 14,52%)

Pemberian fasilitas buyer’s credit, yang pembiayaannya diberikan kepada pembeli produk dan jasa Indonesia di luar negeri, itu bukan tanpa alasan.

Buyer’s credit merupakan fasilitas yang hanya dapat disediakan oleh LPEI dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor Indonesia dari sisi pembeli (demand side). Skema itu merupakan bentuk nyata dari peran LPEI untuk mengisi ceruk pasar.

Selain pemberian fasilitas pembiayaan, LPEI juga menggandeng Development Bank of the Central African States/la Banque de Développement des Etats de l’Afrique Centrale (BDEAC).

Pemilihan Development Bank untuk wilayah Afrika Tengah didasarkan pada kesamaan visi dengan LPEI yang mengedepankan aspek kemanfaatan sosial dan ekonomi dari setiap proyek yang dibiayai.

(Baca: Indonesia Eximbank Tawarkan Obligasi dan Sukuk Rp 4,29 Triliun)

Kerja sama tersebut diperkirakan dapat meningkatkan minat negara-negara Afrika, khususnya Afrika Tengah, terhadap produk dan jasa yang berasal dari Indonesia.

Penguatan kerja sama dengan lembaga Export Credit Agency (ECA) Afrika juga sebelumnya dilakukan oleh LPEI dengan Nigeria Eximbank dan Ghana Export Import Bank.

Kerja sama itu meliputi pertukaran informasi mengenai kondisi perekonomian dan program peningkatan kapasitas dan dengan Africa Export-Import Bank (Afreximbank) dalam bentuk Framework Agreement on Uncommited Credit Line Facility senilai US$ 50 juta.

Sampai saat ini, LPEI telah memberikan fasilitas pembiayaan kepada BUMN strategis untuk beberapa proyek di Afrika. Fasilitas diberikan antara lain kepada PTDI untuk pembelian pesawat CN 235 oleh Senegal, WIKA untuk pembangunan rumah susun di Aljazair, dan pembangunan serta renovasi istana presiden di Niger.

(Baca: Sejak 2009, Pembiayaan Eximbank Naik 10 Kali Lipat Jadi Rp 107,1 T)

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN