Ramayana Investasi Rp 150 Miliar untuk Ubah Gerai Jadi Mal Lifestyle

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ekarina

21/8/2019, 06.00 WIB

Gerai Ramayana akan memiliki konsep baru penggabungan bisnis retail, hiburan, dan makanan-minuman.

gerai ramayana, bisnis ramayana, Mal Lifestyle
commons.wikimedia.org
Ramayana akan mengubah lima unit gerai menjadi mall lifestyle pada semester II 2019.

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) melakukan transformasi pada beberapa gerai guna menggaet pengujung milenial. Pada semester II 2019, setidaknya ada lima gerai yang akan mengalami perubahan konsep dengan total kebutuhan investasi sekitar Rp 25-Rp 30 miliar per gerai. 

Sekretaris Perusahaan Ramayana, Setiadi Surya mengatakan, di semester II 2019 akan ada lima gerai yang awalnya hanya mengusung shopping mall ditranformasi menjadi mal gaya hidup (lifestyle).

"Toko yang biasa, kami transformasi dengan mengubahnya sesuai dengan kondisi pelanggan milenial. Ini yang disebut toko transformasi," kata dia di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (20/8).

(Baca: Ramayana Sabang Tutup, Ratusan Miliar Mengalir untuk Empat Gerai Baru)

Transformasi gerai tersebut itu pun sebagian didanai dari anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 350 miliar sepanjang tahun ini. 

Konsep Mall Lifestyle

Setyadi mengungkapkan, proses transformasi akan mengubah gerai Ramayana menjadi penggabungan bisnis retail, hiburan, dan makanan-minuman. Pihaknya akan menggandeng sejumlah penyewa atau tenant dari sektor hiburan seperti bioskop XXI.

Dia menyatakan, saat ini sudah ada lima mal yang Ramayana yang telah menerapkan konsep lifestyle. Sedangkan gerai sudah dilengkapi bioskop jumlahnya 14 unit. "Saat ini jumlah pusat perbelanjaan yang kami kelola ada sekitar 117 outlet," kata Setiadi.

(Baca: Laba Rp 587 Miliar, Ramayana Bagi-bagi Dividen Senilai Rp 337 Miliar)

Pada semester I 2019, Ramayana membukukan pendapatan Rp 3,48 triliun, turun 0,21% dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp 3,49 triliun. Penurunan itu disebabkan seiring dengan turunnya penjualan barang beli putus perusahaan sebesar 1,7% secara tahunan menjadi Rp 2,86 triliun.

Meski begitu, laba tahun berjalan Ramayana pada enam bulan pertama tahun ini tumbuh hingga 21,3% menjadi Rp 589,8 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp 486,0 miliar. Salah satu penyebabnya yaitu beban pokok penjualan barang beli putus Ramayana turun 1,1% menjadi sekitar Rp 1,91 triliun dari Rp 1,94 triliun.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN