Rupiah Menguat ke 14.243 per Dolar AS di Tengah Ancaman Resesi Global

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

21/8/2019, 17.30 WIB

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini, Rabu (21/8) menguat tipis 0,24% ke level Rp 14.243 per dolar AS.

Rupiah Menguat ke 14.243 per Dolar AS di Tengah Ancaman Resesi Global
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini, Rabu (21/8) menguat tipis 0,24% ke level Rp 14.243 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini, Rabu (21/8) menguat tipis 0,24% ke level 14.243 per dolar AS. Penguatan rupiah terjadi di tengah kondisi perekonomian global yang kian layu dan memicu resesi.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate menempatkan rupiah menguat tipis dari posisi kemarin 14.262 per dolar ke level 14.259. Mengutip Bloomberg, mayoritas mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Won Korea naik 0,47%, ringgit Malaysia 0,16%, rupee India 0,35%, peso Filipina 0,14%, dolar Taiwan 0,11%, dolar Singapura 0,14%.

Sementara itu dolar Hong Kong stagnan, baht Thailand melemah 0,01%, dan yuan China melemah 0,06%. Di sisi lain euro dan poundsterling Inggris melemah terhadap dolar AS masing-masing 0,02% dan 0,35%.

(Baca: Trump Gulirkan Lagi Ancaman, Siap Pajaki Mobil Impor dari Eropa)

Analis PT Garuda Berjangka Ibrahim menilai, ekonomi dunia semakin menunjukkan perlemahan. Perlambatan ekonomi, menurut dia, antara lain terjadi di AS dan Jerman. 

Pada hari Senin lalu, (19/8) Deutsche Bundesbank mengatakan bahwa ekonomi Jerman diperkirakan akan menyusut selama musim panas karena produksi industri yang menurun. Tak hanya Jerman, kekhawatiran resesi juga tengah dialami AS.

"Melihat kondisi ekternal, dalam transaksi hari ini rupiah akhirnya ditutup masih lebih bagus dibandingkan penutupan pasar kemarin," ujar dia.

Saat ini, menurut dia, pasar tengah menunggu pidato Jerome Powell yang pada Jumat (23/8). Komentar Powell menjadi perhatian khusus setelah terjadinya inversi minggu lalu dari kurva imbal hasil AS yang secara luas dianggap sebagai sinyal resesi. 

(Baca: AS Kaji Pangkas Pajak Pekerja di Tengah Ancaman Resesi)

Hal tersebut turut mendorong ekspektasi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) akan melakukan penurunan suku bunga lagi pada pertemuan bulan September. Bulan lalu,  The Fed memangkas suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2008 sebagai penyesuaian pertengahan siklus.

Hingga kini, pasar keuangan masih mengharapkan penurunan suku bunga lebih lanjut sebelum akhir tahun dengan latar belakang meningkatnya ketegangan perdagangan dan melambatnya pertumbuhan ekonomi. 

Sementara dari sisi internal, menurut dia, pasar tengah menanti rapat bulanan penentuan suku bunga Bank Indonesia yang akan digelar pada Kamis (22/8). Ia pun memperkirakan BI akan mempertahankan bunga acuan pada level 5,75%.

"Dalam transaksi besok, rupiah kemungkinan akan berfluktuasi. tetapi menguat tipis karena pasar menunggu hasil pertemuan BI dan bank sentral AS. Rupiah akan diperdagangkan di kisaran Rp 14.200 hingga Rp14.300 per dolar AS," terang dia. 

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN