Kebijakan The Fed Belum Pasti, Rupiah dibuka Melemah 1 Poin Pagi Ini

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

23/8/2019, 09.46 WIB

Pelemahan dipicu sikap 'wait and see' pasar yang menantikan kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed.

nilai tukar, rupiah, dolar amerika serikat, dolar
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Rupiah melemah 1 poin terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi ini, Jumat (23/8), ke level Rp 14.240 per dolar AS. Pelemahan dipicu sikap 'wait and see' pasar yang menantikan kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada pagi hari ini, Jumat (23/5). Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp 14.240 per dolar AS atau melemah 1 poin dibanding penutupan kemarin sore di level Rp 14.239 per dolar AS.

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira memperkirakan, rupiah hari ini akan melemah tipis dipengaruhi oleh pasar yang menantikan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed.

"Rupiah hari ini akan melemah ke Rp 14.260 - Rp 14.290 per dolar AS. Penyebabnya pasar masih berspekulasi terkait arah kebijakan the Fed yang akan kembali pangkas bunga acuan di bulan September," katanya saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat (23/8).

Ia menjelaskan, hal ini membuat investor kembali memegang dolar AS. Adapun indeks dolar AS konsisten menguat 0,11% di penutupan kemarin menjadi 98,2.

(Baca: BI Pangkas Lagi Bunga Acuan, Rupiah Menguat Tipis)

Selain itu, rilis data pertumbuhan manufaktur AS yang terkontraksi menunjukkan tren perlambatan. Bhima memperkirakan tren ini akan berlanjut hingga akhir tahun. Purchasing Manager's Index (PMI) untuk manufaktur AS anjlok ke level 49,9 pada bulan Agustus atau turun dari 50,4 di Juli. Indeks di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi pada sektor manufaktur.

Dari segi domestik, Bhima berpendapat terdapat kekhawatiran peningkatan alokasi subsidi solar. "Ini berimplikasi pada melonjaknya defisit migas sepanjang semester II," ucap dia. Adapun subsidi solar menurut Pertamina bisa membengkak sebesar 0,8 hingga 1,4 juta kiloliter di 2019.

Hal ini pun turut diyakini Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra. Ia menjelaskan bahwa The Fed memang belum memberikan kepastian yang jelas mengenai kebijakan suku bunga acuannya.

"Pemangkasan suku bunga acuan BI bisa berdampak ke pelemahan rupiah lebih lanjut bila The Fed memberikan pandangan tidak akan terburu-buru dalam memangkas suku bunga," katanya saat dihubungi di waktu yang berbeda.

(Baca: Rilis Notulensi Rapat The Fed Angkat Rupiah Menguat ke Rp 14.230)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN