Modal Asing Masuk Rp 177 Triliun Meski Dibayangi Perang Dagang

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Martha Ruth Thertina

23/8/2019, 16.04 WIB

Persepsi terhadap risiko investasi di dalam negeri sempat menguat. Ini terindikasi dari CDS yang kembali naik.

Bank Indonesia soal arus masuk modal asing, investasi asing, dan CDS Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan modal asing kembali mengalir masuk ke pasar keuangan domestik sepekan belakangan, setelah sempat terjadi arus keluar. Aliran masuk khususnya ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).

"Secara keseluruhan, aliran portofolio inflow ke SBN dan saham yakni Rp 177,9 triliun secara tahun kalender (year to date)," kata dia di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (23/8).

Ia memerinci, aliran masuk modal asing ke pasar SBN sebesar Rp 114,9 triliun, sedangkan ke pasar saham Rp 63,1 triliun.

(Baca: Risiko Investasi Surat Utang RI Terus Naik, Gubernur BI: Jangan Panik)

Berlanjutnya arus masuk modal asing, menurut Perry, mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap prospek dan kebijakan ekonomi domestik. Meskipun, masih ada ketidakpastian global, utamanya terkait perang dagang.

Kepercayaan tersebut tercermin juga dari penurunan Credit Default Swap (CDS) SBN. Mengutip data World Government Bonds, CDS tenor 5 tahun berada di posisi 91,77. Ini lebih baik dari posisi pertengahan Agustus yang nyaris mendekati 100. "Premi resiko kita juga turun sebagai indikator confident," ujar Perry.

CDS Merangkak Naik Sejak Awal Agustus

Berdasarkan data World Government Bonds, CDS Indonesia kembali naik mulai awal Agustus. CDS tenor 5 tahun yang sebelumnya sempat turun ke level 77 berangsur menanjak hingga mencapai 99,47 pada 15 Agustus 2019. Saat berita ini ditulis, CDS Indonesia berada pada posisi 91,77.

Meski begitu, ini bukan level CDS tertinggi Indonesia. Pada 2018, CDS terendah berada di level 129 yaitu pada 1 Oktober, sedangkan level tertinggi 159,6 pada 30 oktober. Sedangkan tahun ini, CDS terendah berada di level 77,4 pada 29 Juli, dan CDS tertinggi 143 yaitu pada 3 Januari.

Yang masih menjadi catatan, CDS Indonesia saat ini tercatat melebihi negara Asia lain yang memegang peringkat utang jangka panjang hampir sama. Indonesia memegang peringkat BBB dari S&P, satu level di atas level terbawah layak investasi. Namun, CDS Indonesia selisih jauh dengan India 73,97 (BBB-), dan Filipina 50,16 (BBB+).

Sedangkan di dunia, CDS Indonesia tercatat hanya lebih baik dibandingkan empat negara lain dengan peringkat utang selevel yaitu Italia 194,1 (BBB), Meksiko 110,6 (BBB+), Rusia 97,67 (BBB-), dan Kolombia 93,02 (BBB-).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN