Harga Minyak Sempat Turun 1% Seiring Prospek Pasokan Naik dari Iran

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ameidyo Daud Nasution

27/8/2019, 09.48 WIB

Pasar mempertimbangkan masuknya minyak asal Iran jika hubungan AS-Teheran membaik.

Harga Minyak, Iran, Amerika Serikat.
Katadata
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak dunia Senin (26/8) turun imbas potensi perundingan Iran-AS.

Harga minyak dunia sempat turun pada perdagangan Senin (26/8) waktu New York, di tengah prospek peningkatan pasokan minyak mentah dari Iran. Ini terjadi setelah presiden Prancis Emmanuel Macron menyinggung potensi kesepakatan mengenai nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak berjangka jenis Brent turun 1,1% menjadi US$ 58,70 per barel setelah mencapai sesi tertingginya US$ 60,17. Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS hanya naik 1%, menjadi US$ 53,64 per barel.

Tahun lalu, Presiden AS Donald Trump meninggalkan perjanjian nuklir Iran dan negara lainnya, dengan alasan ingin memperoleh kesepakatan yang lebih besar dengan Teheran. Kesepakatan tersebut utamanya terkait pembatasan program rudal balistik. Untuk menekan Iran, Trump pun memperketat sanksi dagang guna menyetop ekspor minyak dari negara tersebut.

"Sekarang pasar sedang mempertimbangkan kemungkinan pasokan minyak Iran masuk ke pasar jika ada kemajuan yang dibuat," kata analis Price Futures Group, Phil Flynn dilansir dari Reuters, Selasa (27/8).

(Baca: Perang Dagang AS-Tiongkok Berlanjut, Harga Minyak Anjlok Hampir 2%)

Namun, harapan akan terkereknya harga minyak muncul setelah Trump menyatakan keyakinannya bahwa Tiongkok tulus menyelesaikan perselisihan dagang. Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He, yang memimpin perundingan dengan Washington, mengatakan Beijing bersedia negosiasi dengan "tenang".

Harga minyak telah turun sekitar 20% dari level tertinggi 2019 yang dicapai pada April lalu. Ini karena kekhawatiran bahwa perang dagang AS-Tiongkok akan mengganggu ekonomi global, dan mengurangi permintaan minyak.

(Baca: Redam Ketegangan, Tiongkok Ingin Resolusi Damai Perang Dagang )

Yang terkini, pekan lalu, Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan akan mengenakan tarif tambahan 5% atau 10% pada total 5.078 produk yang berasal dari Amerika Serikat. Ini termasuk minyak mentah, produk pertanian dan pesawat kecil. Sebagai balasan, Trump memerintahkan perusahaan-perusahaan AS untuk mencari cara untuk menutup operasinya di Tiongkok dan membuat produk di kampung halamannya.

Adapun saat berita ini ditulis, harga minyak kembali naik. Minyak berjangka Brent berada di posisi US$ 58,96 per barel, naik 0,44% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sedangkan minyak berjangka WTI berada di posisi US$ 53,97, naik 0,62%.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha