Cicilan Kredit Duniatex Tersendat, BNI Turunkan Kolektibilitas

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Yuliawati

30/8/2019, 23.22 WIB

BNI melakukan berbagai upaya mitigasi risiko atas kredit kepada Duniatex.

Duniatex, BNI, kredit macet
Dok. Duniatex
Sejumlah pekerja mengawasi produksi kain di salah satu pabrik milik Grup Duniatex.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menyebutkan pembayaran cicilan pinjaman dari Duniatex Grup tersendat. BNI pun menurunkan level kolektibilitas dari kredit yang diberikan kepada Duniatex Grup menjadi kolektibilitas 2 dari kolektibilitas 1.

"Duniatex sampai Juli masih bayar, tapi di Agustus (mulai tersendat) mungkin memang menurunkan ke kol-2," kata Direktur Manajemen dan Risiko BNI, Bob Tyasika Ananta ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (30/8).

Sebelumnya, Bob menyebutkan kredit yang diberikan kepada Duniatex Group ini memiliki jaminan yang nilainya lebih tinggi hingga 2,5 kali lipat dari kredit yang disalurkan. Total kredit BNI ke Duniatex saat ini mencapai Rp 459 miliar.

"Spesifiknya (kredit) Duniatex, kami ada di (pinjaman) sindikasi sekitar Rp 301 miliar dan juga ada di (pinjaman) bilateral sekitar Rp 158 miliar," kata Bob saat itu.

(Baca: Meski Anak Usaha Bermasalah, Duniatex Bayar Cicilan Kredit ke Mandiri)

Namun, bank pelat merah ini tetap melakukan upaya mitigasi risiko atas kredit kepada Duniatex. Salah satu caranya dengan melakukan pembicaraan dengan pemilik perusahaan agar dapat menjual aset yang dijaminkan tersebut kepada investor. Jika kemudian jaminan itu diambil oleh investor, maka saldo pinjaman Duniatex pun menurun.

Aset-aset yang dijaminkan untuk kredit bilateral antara BNI dengan Duniatex berupa tanah, pabrik, dan bangunan. "Dari sisi konteks mitigasi risikonya, posisi (kredit) dari Duniatex ini sendiri ditanggung oleh jaminan yang nilainya di atas 250% dari total kredit tersebut," kata Bob.

Masalah ini muncul karena Duniatex saat ini mengalami gagal bayar (default) kupon obligasi anak usahanya, PT Delta Merlin Dunia Textile. Gagal bayar ini terjadi hanya berselang empat bulan dari penerbitan obligasi senilai US$ 300 juta dengan kupon 8,625% per tahun pada Maret lalu.

Standard and Poors (S&P) memangkas peringkat obligasi dolar bertenor lima tahun itu dari BB- menjadi CCC- (junk bond). Menurut lembaga pemeringkat global itu, perusahaan tekstil yang berkantor pusat di Solo ini menghadapi masalah likuiditas yang serius.

(Baca: Duniatex Mulai Telat Bayar Kredit di BRI, Risiko Dinilai Terkendali)

Fitch Ratings juga menurunkan peringkat kredit Delta Merlin Dunia Textile dari BB- menjadi B-. Fitch menyoroti tekanan pembiayaan kembali dan risiko likuiditas yang dihadapi perusahaan. Kasus gagal bayar ini juga berisiko membatasi akses perusahaan ke perbankan dan pasar modal.

Saat ini Duniatex mengalami pelemahan kinerja keuangan. Perusahaan terkena dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang menahan permintaan tekstil.

Kasus gagal bayar kupon obligasi Delta Merlin ini mengagetkan karena selama ini Duniatex belum pernah terlambat memenuhi kewajiban keuangannya. Selain BNI, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga memiliki exposure kredit ke Duniatex Rp 5,5 triliun pada 2015 dan saat ini tersisa Rp 2,2 triliun.

(Baca: Gara-gara Duniatex Gagal Bayar Utang, NPL LPEI Naik Jadi 14,52%)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan