BPS Catat Inflasi Agustus 0,12%, Didorong Naiknya Biaya Pendidikan

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

2/9/2019, 12.53 WIB

Inflasi Agustus 2019 lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia sebesar 0,15%.

inflasi agustus, badan pusat statistik, data inflasi, inflasi indonesia
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi gedung di salah satu Universitas Indonesia (10/07). Menurut data BPS, naiknya biaya pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, menjadi penyumbang utama inflasi Agustus yang tercatat sebesar 0,12% secara bulanan atau 3,49% secara tahunan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Agustus 2019 sebesar 0,12%. Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan secara tahunan, inflasi Agustus 2019 tercatat sebesar 3,49%, sedangkan secara tahun kalender sebesar 2,48%. "Ini sudah bisa diprediksikan karena memang pada bulan Juli-Agustus adalah masa tahun ajaran baru," kata dia dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (2/9).

Secara rinci, ia menjelaskan penyebab inflasi tertinggi yaitu dari kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga yang mencatatkan inflasi sebesar 1,21% atau memberi andil 0,09% terhadap total inflasi.

Adapun kenaikan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi memiliki andil terbesar pada inflasi kelompok ini. SPP SD tercatat naik 0,05%, SPP sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) naik 0,02%, serta SPP perguruan tinggi naik 0,01%.

(Baca: Harga Beras hingga Ayam Turun, Inflasi Agustus Diprediksi 0,16%)

Kemudian kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi 0,26% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,05%. Kenaikan utamanya disumbang oleh komoditas rokok kretek dan kretek filter yang naik masing-masing 0,01%.

Sementara untuk kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami kenaikan 0,23%. Komoditas yang memberi inflasi pada kelompok ini yakni kenaikan tarif sewa rumah sebesar 0,02%.

"Ini karena adanya kenaikan berbagai bahan bangunan seperti asbes, batu bata dan upah tukang," ucap dia. Selain itu, ada pula kenaikan tarif air minum PAM 0,01% sehingga kelompok perumahan memberi andil inflasi 0,6%.

Adapun untuk sandang terjadi inflasi 0,88% dengan andil terhadap inflasi nasional sebesar 0,06%. Kenaikan ini terjadi karena kenaikan harga emas perhiasan dimana andil inflasinya mencapai 0,05%.

(Baca: Inflasi dan Upaya Penting Stabilitas Ekonomi)

Selanjutnya untuk kelompok kesehatan terjadi inflasi 0,59% dengan andil 0,02%. Suhariyanto menyebutkan, kenaikan yang dominan dalam kelompok ini yaitu kenaikan tarif rumah sakit dengan andil 0,01%.

Sementara itu, terdapat dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yakni kelompok bahan makanan dan transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Tercatat kelompok bahan makanan mengalami deflasi 0,19% dan kelompok transportasi 0,55%.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi hingga pekan keempat Agustus mencapai 0,15% secara bulanan akibat kenaikan harga emas perhiasan dan cabai.

Sementara hingga akhir tahun, BI memproyeksi inflasi akan terjaga stabil dan rendah di bawah 3,5%. Rencana pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan mulai tahun ini diperkirakan tidak akan berkontribusi banyak pada inflasi hingga akhir tahun ini.

(Baca: Inflasi Diprediksi Terkendali, IHSG Hari ini Berpotensi Naik)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan