Hong Kong Cabut RUU Ekstradisi, Rupiah dan Mata Uang Asia Menguat

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Desy Setyowati

5/9/2019, 09.56 WIB

Selain RUU ekstradisi yang dicabut, data ekonomi Tiongkok membuat rupiah menguat.

Hong Kong berencana mencabut RUU ekstradisi, nilai tukar rupiah dan mata uang Asia menguat terhadap dolar AS
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Ilsutrasi, seorang petugas bank menghitung mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah dan mata uang Asia menguat terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis, hanya satu poin menjadi Rp 14.160 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini (5/9), berdasarkan data Boomberg. Namun, saat berita ini ditulis, rupiah menguat 0,07% menjadi Rp 14.149 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia juga menguat pada perdagangan pagi hari ini. Dolar Hong Kong menguat 0,01%, dolar Singapura 0,08%, dolar Taiwan 0,03%, dan won Korea Selatan 0,82%.

Begitu juga dengan peso Filipina yang menguat 0,16% terhadap dolar AS. Lalu, rupee India 0,37%, yuan Tiongkok 0,15% dan ringgit Malaysia 0,28%.

Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, rupiah dan mata uang negara berkembang (emerging market) lainnya menguat terhadap dolar AS sejak perdagangan kemarin. "Penguatan ditopang oleh berita bahwa pemimpin Hong Kong mencabut Rancangan Undang-Undang atau RUU ekstradisi," katanya kepada Katadata.co.id, Kamis (5/9).

(Baca: Cuitan Trump Berpotensi Membuat Rupiah Tertekan Hari Ini)

Pengumuman tersebut menjadi sentiment positif bagi pasar. Sebab, RUU ekstradisi memicu bentrokan antara demonstran dan kepolisian selama ini. Maka, kebijakan mencabut regulasi itu tentu diapresiasi oleh investor di pasar keuangan negara berkembang. 

Selain itu, data ekonomi Tiongkok seperti Indeks Manajer Pembelian (PMI) Komposit dan PMI sektor jasa pada Agustus tercatat membaik. Hal ini juga menjadi katalis bagi pasar pada perdagangan hari ini.

Apalagi, dolar AS tertekan oleh penguatan signifikan dari pound sterling Inggris. Hal ini terjadi setelah anggota parlemen Inggris menyetujui UU yang dirancang untuk mencegah pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson memproses Brexit dalam waktu dekat ini. 

"Dengan kata lain, parlemen ingin pemerintah Inggris bernegosiasi kembali dengan Uni Eropa. Maka, deadline Brexit diundur dari sebelumnya 31 Oktober 2019 menjadi 31 Januari 2020," kata Josua.

(Baca: Kurs Rupiah Tertekan di Tengah Penguatan Tajam Dolar AS)

Pada sesi perdagangan AS tadi malam, dolar AS ditutup melemah terhadap mata uang utama setelah rilis data ekonomi AS. Data tersebut yakni defisit perdagangan Juli yang tercatat lebih besar dari perkiraan.

Dalam laporan Beige Book dari The Federal Reserve (The Fed) di beberapa daerah di AS menunjukkan, perekonomian Negeri Paman Sam tumbuh cukup solid hingga akhir Agustus. Namun, beberapa pejabat bank sentral AS fokus pada ketidakpastian perang dagang.

Josua pun memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 14.100-Rp 14.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Ia optimistis, rupiah dalam tren penguatan. Hal itu terlihat dari Nikkei yang naik 1,5% dan Hang Seng hampir 4%.

(Baca: Imbal Hasil Surat Utang AS Naik, Rupiah Dibuka Melemah)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN