Efek Perang Dagang, Dana Asing ke Luar Bursa Saham Rp7 Triliun Sebulan

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

10/9/2019, 22.00 WIB

Sentimen perang dagang AS-Tiongkok, kebijakan suku bunga the Fed, dan ketidakpastian Brexit membuat investor lari dari pasar saham domestik.

investor asing, net sell investor asing, jual bersih saham investor asing, perang dagang
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Suasana Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor asing dalam sebulan terakhir mencatatkan net sell sebesar Rp 7,28 triliun dipicu kekhawatiran memanasnya perang dagang.

Investor asing di pasar saham dalam sebulan terakhir melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 7,28 triliun berdasarkan data RTI Infokom. Di pasar reguler, asing tercatat net sell sebesar Rp 6,09 triliun, sementara di pasar negosiasi dan tunai net sell sebesar Rp 1,19 triliun.

Direktur Investa Saran Mandiri, Hans Kwee menjelaskan, aksi investor asing tersebut disebabkan oleh sentimen dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Seperti diketahui, pada awal Agustus lalu kedua negara saling serang dengan mengenakan tarif terhadap barang impor masing-masing.

"Panasnya perang dagang jadi sesuatu yang membuat pasar menjadi khawatir. Makanya investor asing menjual," kata Hans kepada Katadata.co.id Selasa (10/9).

Awal Agustus ini Tiongkok mengumumkan berhenti membeli produk pertanian dari negeri adidaya itu. Selain itu, Beijing juga menyatakan tidak akan menghapus tarif impor terhadap produk pertanian AS yang dibeli setelah 3 Agustus 2019.

(Baca: Saham-saham Telekomunikasi Melesat, IHSG Ditutup Menguat Tipis 0,17%)

Langkah ini dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping sebagai pembalasan terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menerapkan tarif pada impor barang asal Tiongkok senilai US$ 300 miliar. Hal ini dianggap Tiongkok sebagai pelanggaran serius atas negosiasi dagang beberapa waktu lalu.

Selain perang dagang, menurut Hans, investor asing keluar dari pasar saham karena was-was sembari menanti kebijakan bank sentral AS, The US Federal Reserve (The Fed), terkait suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) bulan ini. "Jadi itu menyebabkan pasar khawatir yang membuat pasar terkoreksi. Itu faktor yang dominan menyebabkan pasar seperti ini," kata Hans.

Selain dari AS, sentimen asing melakukan aksi jual di pasar saham datang dari Eropa, di mana Perdana Menteri Inggris yang baru, Boris Johnson, berniat untuk keluar dari Uni Eropa meski tidak ada kesepakatan atau hard Brexit. Tapi, di akhir pekan lalu, parlemen Inggris membentuk undang-undang yang mengahalangi Boris untuk hard Brexit.

(Baca: Banjir Dana Asing, Imbal Hasil Surat Utang Negara Naik 10% di Agustus)

Hans menambahkan, investor asing yang keluar dari pasar saham dalam negeri, biasanya bakal berpindah untuk melakukan investasi di Surat Utang Negara (SUN). "Baru kalau dari situ (SUN) bergerak jelek, lari ke luar negeri," kata Hans.

Hal itu terlihat dari imbal hasil (yield) obligasi pemerintah 10 tahun yang dalam sebulan terakhir ini tercatat melaju turun. Per 6 Agustus 2019 yield obligasi pemerintah 10 tahun sebesar 7,66%. Sementara, per hari ini yield di level 7,25%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN