Asosiasi E-Commerce dan Kominfo Anggap Wajar PHK di Bukalapak

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Happy Fajrian

11/9/2019, 21.50 WIB

PHK dinilai sebagai bagian dari strategi bisnis Bukalapak.

phk bukalapak, bukalapak, kominfo, e commerce
Katadata/Desy Setyowati
Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky dalam konferensi pers ulang tahun ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1). E-commerce Indonesia (idEA) dan Kominfo menilai PHK yang dilakukan Bukalapak sebagai hal yang wajar sebagai bagian dari strategi bisnis.

E-Commerce Indonesia (idEA) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menilai pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan yang dilakukan oleh Bukalapak sebagai suatu hal yang wajar, dan seharusnya tidak mengakibatkan pergolakan bagi perusahaan tersebut.

Ketua idEA Ignatius Untung mengatakan, PHK merupakan sesuatu yang wajar terjadi di industri manapun. "Selama ini (PHK terjadi) bukan karena dampak turbulence-nya (pergolakan) industri. Jadi, seharusnya (hal itu) tidak akan ada dampak signifikan," ujar Ignatius kepada Katadata.co.id, Rabu (11/9).

Sependapat dengan Ignatius, Menteri Kominfo Rudiantara menilai PHK yang dilakukan Bukalapak sebagai hal yang wajar. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis Bukalapak.

Tanpa adanya penyesuaian strategi bisnis, sulit bagi Bukalapak untuk bisa terus bertahan. "Ini istilahnya tidak sesuai dengan strategi ke depannya, itu yang sekarang keluar (PHK karyawan Bukalapak)," kata Rudiantara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/9).

(Baca: Tanggapi Kabar PHK Karyawan, Bukalapak: Bagian dari Strategi Bisnis)

Rudiantara pun membantah PHK karyawan di Bukalapak karena startup unicorn tersebut tengah mengalami perlambatan pertumbuhan. Justru laba kotor Bukalapak naik tiga kali lipat pada pertengahan tahun ini dibandingkan pertengahan 2018. "Jadi logikanya kalau pertumbuhannya tiga kali lipat, pasti dia akan menambah jumlah pegawainya," kata Rudiantara.

Dia pun yakin Bukalapak akan membuka rekrutmen karyawan baru. Ini dilakukan untuk mencari orang yang keterampilannya sesuai dengan strategi bisnis Bukalapak. "Pasti dia akan cari orang yang memang lebih cocok," ujarnya.

Rudiantara pun meminta ratusan karyawan Bukalapak yang kena PHK untuk membuat startup baru. Hal tersebut mengikuti pola yang dilakukan para karyawan di perusahaan ternama di Silicon Valley.

Menurutnya, para karyawan di perusahaan ternama di Silicon Valley yang keluar akan membuat startup baru. Startup tersebut dibuat sebagai bagian dari ekosistem Google.

(Baca: Bukalapak PHK Karyawan, Unicorn Keempat Indonesia Mulai 'Batuk'?)

Jika startup tersebut terus berkembang, maka Google akan mengakuisisinya. "Saya berharap di Indonesia juga begitu. Jadi karyawan-karyawan di unicorn dan decacorn juga berpikir bagaimana dia suatu saat keluar jadi startup dan jadi bagian dari ekosistem induknya, sehingga nanti diakuisisi," kata dia.

Bukalapak membenarkan telah melakukan PHK terhadap para karyawannya. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu strategi perusahaan agar dapat menjaga keberlanjutan bisnis menjadi unicorn pertama yang mencetak keuntungan.

Chief of Strategy Officer of Bukalapak Teddy Oetomo menjelaskan, meski pertumbuhan gross merchandise value (GMV) menjadi indikator penting bagi e-commerce, pihaknya ingin membangun bisnis ke tahap lebih jauh. Perusahaan ingin menjadi sustainable e-commerce  atau e-commerce yang menghasilkan keuntungan.

Salah satu strateginya yaitu dengan menyelaraskan internal perusahaan dengan langkah PHK karyawan. Penyelarasan dibutuhkan untuk menerapkan strategi bisnis jangka panjang, melakukan penataan yang diperlukan, serta menentukan arah selanjutnya.

"Kami ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih keuntungan. Dengan pencapaian performa bisnis yang baik dan modal yang cukup, kami menargetkan untuk dapat mencapai break even, bahkan keuntungan dalam waktu dekat," ujar Teddy dikutip dari situs perusahaan, Selasa (10/9).

(Baca: Bukalapak PHK Karyawan, Unicorn Keempat Indonesia Mulai 'Batuk'?)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN