Bos Huawei Siap Jual Teknologi 5G ke Perusahaan Kawasan Barat

Penulis: Ameidyo Daud

12/9/2019, 14.55 WIB

Penjualan Huawei agar ada pesaing bisnis baru yang juga menggunakan teknologi serupa.

Huawei, 5G, Digital.
123RF.com
Bos Huawei Ren Zhengfei siap jual teknologi 5G ke negara Barat.

Pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei siap menjual teknologi 5G kepada pembeli dari negara Barat.  Langkah tersebut dilakukan agar ada pesaing bisnis baru yang juga menggunakan teknologi buatan perusahaan Tiongkok ini.

Dalam satu kali transaksi, pembeli mendapatkan akses berulang ke paten, lisensi, kode, cetak biru, serta pengetahuan produksi 5G. Pembeli juga dapat memodifikasi sumber kode 5G, sehingga tak ada potensi kontrol Huawei mapun Pemerintah Tiongkok kepda infrastruktur telekomunikasi tersebut.

“Distribusi yang seimbang akan kondusif bagi kelangsungan hidup Huawei,” kata Ren dikutip dari The Economist, Kamis (12/9). Namun ia memastikan arah pengembangan 5G tetap berada di tangan Huawei.

(Baca: Tak Mau Dijadikan Alat Perang Dagang AS, Huawei Hadapi Krisis)

Dalam beberapa waktu belakangan, Huawei terus-menerus diserang oleh Amerika Serikat (AS) yang menuding Tiongkok bisa memata-matai lewat peralatan 5G. Bahkan perusahaan AS juga dilarang menjual komponen dan perangkat lunak ke Huawei dengan alasan risiko keamanan nasional.

Ren menyatakan langkah Huawei ini dapat menepis kecurigaan tersebut. Kesempatan akan akses penuh 5G juga akan menghilangkan dilema antara mendapatkan teknologi murah ala Huawei dan kekhawatiran dimata-matai Tiongkok.

Ren juga mengatakan uang dari kesepakatan 5G ini sebenarnya untuk kepentingan Huawei sendiri. Diperkirakan nilai seluruh portofolio teknologi tersebut mencapai puluhan miliar dolar AS jika dijual.

“Untuk membuat langkah maju yang lebih besar,” kata Ren.

(Baca: Huawei Proyeksi Adopsi Jaringan 5G di Indonesia Paling Lambat 2022)

Namun Ren belum mengetahui negara mana yang berminat membeli teknologi 5G ini. Dia hanya menjelaskan bahwa kecepatan teknologi diperlukan bagi perkembangan suatu negara.

“Negara yang menyerah terhadap kemajuan teknologi akan melihat ekonominya melambat,” kata Ren.

Huawei menjadi pusat ketegangan geopolitik antara AS dan Tiongkok sejak Mei lalu. Ketika itu Presiden Amerika Donald Trump menempatkan perusahaan ini ke dalam daftar entitas yang secara efektif melarang pemasok Amerika untuk menjual perangkatnya kepada mereka.  Jika kebijakan tetap diberlakukan, Huawei berpotensi kehilangan akses ke pembaruan reguler OS Android.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN