Anggap Potensi Besar, Fintech Asal Australia Bidik Milenial Indonesia

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Yuliawati

12/9/2019, 13.00 WIB

Kaum milenial belum teredukasi sehingga belum menemukan wadah investasi yang tepat.

fintech, digital,
Katadata/Cindy Mutia
Peluncuran aplikasi Raiz Invest di Jakarta, Jumat (23/8).

Perusahaan financial technology (fintech) asal Australia PT Raiz Invest Indonesia (Raiz) menyebut potensi pasar investasi di Indonesia sangat besar. Fintech reksadana tersebut menilai investasi pasar milenial di Tanah Air mirip dengan Australia.

Komisaris Raiz Invest Indonesia Michael N. Luhukay mengatakan, meski Indonesia dan Australia memiliki perbedaan budaya, alat, serta wadah dalam berinvestasi namun kedua negara itu memiliki kaum milenial. Kaum milenial tersebut memiliki kesamaan pola pikir dalam mengatur masa depan sehingga mereka tertarik dalam berinvestasi.

"Jadi, kurang lebih sebenarnya (pola pikir) investasi bagi pasar milenial di Indonesia dan Australia itu mirip," kata Michael kepada Katadata.co.id saat ditemui di kantornya, Jakarta.

(Baca: Raiz Siapkan Aplikasi untuk Investasi dari Pembulatan Uang Belanja )

Ia menjelaskan, hal itulah yang menjadi salah satu alasan perusahaan berekspansi di Indonesia. Alasan lainnya, Indonesia dari segi total jumlah penduduk mencapai hingga hampir 260 juta jiwa, lalu jumlah penetrasi pengguna internet mencapai 140 juta pengguna. Potensi ini yang dianggap perusahaan cukup besar utamanya bagi kaum milenialnya.

Hanya saja, ketertarikan investasi milenial Indonesia masih belum tersalurkan dengan cukup bijak. Umumnya kaum milenial belum teredukasi sehingga belum menemukan wadah investasi yang tepat. Ia mencontohkan, beberapa milenial masih ada yang melakukan investasi dengan cara konvensional seperti melalui arisan.

Apalagi, menurutnya, mayoritas dari milenial di Tanah Air belum memiliki rekening bank karena alasan khawatir mengeluarkan terlalu banyak uang (over spending). Namun, beberapa dari mereka ada pula yang sudah lazim dengan penggunaan e-wallet.

"Jadi, menurut kami penetrasi pasar inklusi keuangan memang lebih cocok lewat teknologi, khususnya di bidang investasi," ujarnya. Oleh karena itu, perusahaan mendorong investasi reksa dana melalui aplikasinya dengan jumlah mulai dari Rp 10 ribu.

(Baca: Fintech Australia, Raiz Invest Tawarkan Reksadana Receh bagi Milenial)

Michael mengatakan, perusahaan pun bakal lebih gencar dalam mengedukasi milenial Indonesia untuk berinvestasi melalui platfrom media sosial hingga berbagai fitur portofolio investasi di aplikasinya. Ke depan, perusahaan pun bakal meluncurkan fitur membaca data pengeluaran (data spending) untuk memberikan feedback ke pengguna.

Ada tiga pilihan fitur yang dapat digunakan oleh pengguna di aplikasi Raiz. Pertama, fitur Lump Sum Investment atau investasi seketika, di mana pengguna bisa langsung menginvestasikan dananya dalam jumlah tertentu pada suatu waktu. Kedua, fitur Recurring Investment, di mana pengguna dapat melakukan cicilan investasi dalam jumlah dan frekuensi tertentu.

Ketiga, fitur Round-up, di mana setiap selisih dari nilai transaksi di rekening bank atau uang elektronik yang terhubung dengan aplikasi Raiz  sebagai Akun Pengeluaran (Spending Account) akan dibulatkan ke atas. Apabila pembulatan yang terkumpul telah mencapai jumlah tertentu, maka dana di rekening Bank atau uang elektronik yang telah terhubung di aplikasi Raiz sebagai Akun Pendanaan (Funding Account) akan didebit dan dananya diinvestasikan ke efek pasar modal.

(Baca: Fintech SuperAtom dapat Pendanaan Rp 336 Miliar)

Misalnya, ketika pengguna membeli makanan seharga Rp 27 ribu maka aplikasi akan membulatkan dengan kelipatan Rp 5 ribu ke atas menjadi Rp 30 ribu. Selisih Rp 3 ribu tersebut akan dikumpulkan, dicatat, namun tidak langsung dipotong.

Jika sudah terkumpul Rp 10 ribu, barulah rekening bank atau platform uang elektronik yang sudah terhubung akan langsung didebet untuk diiinvestasikan secara otomatis. Hanya, fitur terakhir ini masih dalam tahap penyempurnaan dan diharapkan bisa segera tersedia di aplikasinya dalam waktu dekat.

Adapun skema bisnis yang diterapkan Raiz Invest yakni dengan memberikan biaya berlangganan kepada pengguna. Sebab umumnya apabila ada transaksi dari bank yang berbeda akan dikenakan biaya sebesar Rp 6.500 sedangkan biaya investasi sangat kecil yakni mulai dari Rp 10 ribu.

Biaya berlangganan ini bertujuan agar nantinya ketika pengguna melakukan investasi sudah tidak dikenakan biaya transaksi apapun lagi, khususnya biaya transfer. Biaya berlangganan dipatok mulai dari 3 bulan seharga Rp 50 ribu atau 12 bulan seharga Rp 180 ribu.

Raiz Invest telah menggandeng Avrist Asset Management sebagai Manajer Investasi yang mengelola reksadana yang ditawarkan di aplikasi Raiz. Ada tiga jenis reksadana yang ditawarkan di platfromnya adalah Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, dan Reksadana Indeks Saham (LQ45).

Hingga saat ini perusahaan telah bermitra dengan Bank CIMB Niaga. Ke depan, perusahaan akan mengumumkan kemitraan lainnya seperti dengan salah satu platform e-money BUMN dan salah satu bank swasta. "Target kami akhir tahun ini (hasil kolaborasi) bisa kami umumkan," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN