Arcandra Cari Dukungan Biodiesel Indonesia ke Forum Energi Dunia

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

13/9/2019, 19.49 WIB

Hingga kini hanya negara Eropa yang menentang biodiesel Indonesia. Sementara negara lainnya bersifat netral.

Kementerian ESDM, biodiesel
123RF.COM/tang90246
Ilustrasi, biodiesel. Pemerintah mencari dukungan dunia dalam penerapan biodiesel.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencari dukungan penggunaan minyak kelapa sawit sebagai Bahan Bakar Nabati atau biodiesel. Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mencari dukungan tersebut dalam acara forum 37th ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM37) di Bangkok, Thailand.

Arcandra menyatakan beberapa organisasi energi dunia telah menyatakan sikap netral terhadap kebijakan Indonesia yang terus mendorong penggunaan fatty acid methyl ester (FAME) dalam Biodiesel. Diantaranya adalah International Energy Agency (IEA) dan The International Renewable Energy Agency (IRENA).

"Kami bicara dengan IEA yang menyatakan tidak menentang penggunaan FAME. Saya juga ketemu IRENA, kami bilateral dan mereka juga netral. Yang menentang kan Eropa" kata Arcandra saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (13/9).

(Baca: Uni Eropa Tampik Terlibat dalam Kampanye Hitam Sawit Indonesia)

Dia juga mengungkapkan telah bertemu secara bilateral dengan Amerika Serikat yakni dengan the U.S. Department of State dan US Asian Business Chamber. "Kami menanyakan posisi AS terhadap kelapa sawit. Yang saya dapat bahwa mereka netral," kata Arcandra.

Lebih lanjut Arcandra menyatakan ketiga pihak tersebut telah mengakui dan mendukung kebijakan pemerintah Indonesia terkait penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar pengganti minyak bumi. "Kami dalam rangka tidak mencari musuh. Nah ini strategi saya cari alliance. At least saya dapatkan dari IEA, IRENA, dan Amerika Serikat. Ini usaha aktif kami." ujarnya.

 Arcandra berharap usaha tersebut bakal membuka pasar baru bagi produk minyak kelapa sawit Indonesia. Biarpun pemerintah tidak akan terburu-buru mengejar konsumen potensial di luar negeri.

Pasalnya, ada beberapa aspek yang harus dikaji terlebih dahulu dan dipersiapkan secara matang. Seperti aspek teknologi yang harus bisa kompetitif dan aspek komersial.

"FAME ini bisa jadi komponen green energy. Ini cari dukungan dan kami punya kepentingan untuk biodiesel, FAME, green diesel ini agar bisa diterima," ujar Arcandra.

(Baca: Menteri Pertanian Malaysia dan RI Siap Lawan Diskriminasi Sawit Eropa)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan