Cukai Rokok Naik 23%, Penduduk Miskin Bertambah?

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

16/9/2019, 13.39 WIB

BPS menyebut rokok merupakan penyumbang terbesar kedua angka kemiskinan, setelah beras.

BPS, cukai rokok, rokok
ANTARA FOTO/M. Risyal Hidayat
Ilustrasi. BPS menyebut rokok merupakan penyumbang terbesar kedua angka kemiskinan setelah beras.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kenaikan cukai atas tembakau dapat meningkatkan kontribusi rokok terhadap kemiskinan. Pemerintah telah menetapkan kenaikan tarif cukai rokok pada tahun depan rata-rata sebesar 23% dan harga jual eceran rokok rata-rata sebesar 35%. 

"Karena itu terkait pengeluaran total biaya yang dikeluarkan untuk membeli rokok," ujar Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono di Jakarta, Senin (16/9).

Margo menjelaskan, rokok saat ini masih  menjadi salah satu faktor penyumbang terbesar kemiskinan di Indonesia. Berdasarkan data BPS pada bulan Maret kemarin, belanja rokok memberi andil terhadap kemiskinan sebesar 12,22% di perkotaan dan 11,36% di perdesaan.

"Dengan angka tersebut, kontribusi rokok terhadap kemiskinan tetap nomor dua setelah beras," ucap Margo.

Sementara beras yang menjadi penyumbang utama kemiskinan memberikan andil sebesar 20,59% di perkotaan dan 25,97% di perdesaan.

(Baca: Tarif Cukai Rokok Bakal Naik 23%, Harga Eceran Lebih Mahal 35%)

Selain beras dan rokok, BPS mencatat komoditi yang juga memengaruhi garis kemiskinan adalah telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir. Kemudian, kopi bubuk dan instan, kue basah, serta tempe dan tahu.

BPS mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41% atau sebanyak 25,14 juta orang. Jumlah tersebut menurun 0,53 juta orang dibanding September 2018 dan 0,8 juta orang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penduduk miskin di perkotaan turun sebanyak 136,5 ribu orang. Sementara itu, di pedesaan turun sebanyak 393,4 ribu orang.

(Baca: Sri Mulyani Ingin Angka Kemiskinan Cetak Rekor Terendah Lagi pada 2020)

Dampak ke Inflasi

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kenaikan tarif cukai rokok kemungkinan juga akan memberi dampak terhadap inflasi. "Tidak ke inflasi inti, tapi ke administerd price," kata Suhariyanto saat ditemui di tempat yang sama.

Ia menyebut selama ini rokok turut memberikan sumbangan terhadap inflasi. Setiap bulan, menurut dia, rokok menyumbang inflasi sebesar 0,01%. Dengan demikian, menurut dia, harga rokok terus meningkat setiap bulannya. 

Sementara untuk kenaikan cukai tahun depan, ia mengaku pihaknya belum menghitung dampaknya terhadap inflasi. "Kami mau lakukan exercise dulu, mudah-mudahan tidak terlalu berdampak," tutupnya sambil meninggalkan ruangan.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan