Meski Berisiko, Saham Startup di Bursa Terbukti jadi Buruan Investor

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ekarina

17/9/2019, 21.50 WIB

Saham startup mempunyai nilai lebih karena pertumbuhan yang relatif tinggi dibanding perusahaan yang sudah mapan.

Bursa Efek Indonesia
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Bursa Efek Indonesia

Beberapa perusahaan rintisan (startup), sudah menjadi perusahaan go public melalui skema penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO). Startup tersebut dinilai menarik karena menawarkan pertumbuhan kinerja yang signifikan, kendati mengandung risiko yang tinggi.

Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia, Alfred Nainggolan menyampaikan, secara historis, saham startup mempunyai nilai lebih karena pertumbuhan yang relatif tinggi dibanding perusahaan yang sudah mapan. "Tapi, pertumbuhan tinggi biasanya diikuti oleh risiko," kata Alfred di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (17/9).

(Baca: Hong Kong Rusuh, Alibaba Tunda Rencana IPO Senilai Rp 214 Triliun)

Menurutnya, meski banyak startup memiliki valuasi  harga yang tinggi, fundamental dan labanya masih belum tentu tercapai. Sehingga, investor yang membeli saham startup  umumnya adalah investor yang berani mengambil risiko.

Keputusan investor yang berani mengambil risiko tersebut dinilai karena terpengaruh maraknya perkembangan usaha startup baik di dalam maupun luar negeri. "Ini yang membuat risk taker nyaman. Apalagi Indonesia punya isu bonus demografi, sehingga model startup yang berelasi dengan penduduk, otomatis akan punya story yang cukup bagus," katanya.

Beberapa perusahaan startup sudah masuk ke pasar modal dalam negeri,  di antaranya PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS). Perussahaan yang telah melantai di bursa sejak 5 Oktober 2017, sahamnya naik 33,3% menjadi Rp 400 per saham pada perdagangan hari ini, Selasa (17/9).

(Baca: Startup Milik Putra Jokowi Dapat Tambahan Modal Rp 71 Miliar)

Kemudian, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) yang mana sejak IPO pada 1 November 2017, sahamnya tercatat sudah naik 132,4% menjadi Rp 3220 per saham. PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) juga demikian, sejak IPO pada 12 Juli 2018, sahamnya naik 39,45% menjadi Rp 2.580 per saham.

PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO)  sejak IPO pada 29 Oktober 2018, sahamnya tercatat terkoreksi 60,1% menjadi Rp 150 per saham. Lalu PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) yang sejak IPO pada 27 November 2018, sahamnya tercatat naik 24,7% menjadi Rp 3.680 per saham.

Terakhir perusahaan yang hari ini baru mencatatkan saham perdanannya di BEI yaitu PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS), sahamnya naik 54,44% pada perdagangan hari ini menjadi Rp 278 per saham.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan