#SawitBaik, Kampanye Kominfo yang Dikecam di Tengah Kabut Asap

Penulis: Pingit Aria

17/9/2019, 12.14 WIB

Pemilihan waktu kampanye #SawitBaik dinilai kurang tepat karena beberapa daerah tengah dilanda kabut asap.

Petugas Manggala Agni Daops Pekanbaru berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di perkebunan sawit milik warga di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Riau, Rabu (4/9/2019). Satgas Karhutla Riau terus berupaya melakukan pemadaman kebakaran lahan agar tidak sema
ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Petugas Manggala Agni Daops Pekanbaru berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di perkebunan sawit milik warga di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Riau, Rabu (4/9/2019). Satgas Karhutla Riau terus berupaya melakukan pemadaman kebakaran lahan agar tidak semakin meluas.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah menjadi buah bibir pengguna Twitter karena telah mengkampanyekan tagar #SawitBaik. Momen ini dinilai tidak tepat karena beberapa daerah tengah dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Kampanye #SawitBaik dimulai pada Senin (17/9) kemarin, bersamaan dengan peluncuran akun Twitter @SawitBaikID di Twitter. Saat ini akun tersebut telah memiliki lebih dari 1.500 pengikut.

Peluncuran kampanye #SawitBaik ditandai dengan sebuah Influencer Meeting yang digelar di Jakarta. Di antara pembicara yang hadir adalah Septriana Tangkary, Direktur Informasi dan Komunikasi perekonomian dan Maritim, Kominfo.

Menurutnya, sawit adalah penghasil devisa sebesar US$ 22,97 miliar pada tahun 2017. Industri sawit juga padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja.

(Baca: Jokowi: Upaya Pemadaman Karhutla di Riau Sudah Maksimal)

Karena itu, pemerintah meluncurkan kampanye #SawitBaik. “Gerakan Nasional ini menciptakan dukungan publik di media sosial, menjawab berbagai isu negatif terhadap sawit, menyebarluaskan berbagai hal positif dari sawit, menumbuhkan kecintaan terhadap produk sawit, dan terwujudnya partisipasi aktif masyarakat dalam kampanye ini,” tuturnya.

Dalam kampanye ini, Kominfo berpegang pada Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2015 mengenai Government Public Relation untuk melakukan sosialisasi, edukasi dan pendampingan dalam program pemerintah.

Selain Septriana, hadir juga Anggota DPR dari fraksi Golkar Mukhamad Misbakhun; Senior Assistant Professional dari KEIN Firdha Anisa Najiya; Plt. Asisten Deputi Perkebunan dan Hortikultura, Kemenko Perekonomian Muhammad Saifulloh; dan pegiat media sosial Zulfikar Akbar.

Kampanye ini mendapat sorotan warganet. Tagar #SawitBaik sempat menjadi topik terpopuler di Twitter pada Senin (16/9) kemarin. Meski, tak semua komentar bernada positif.

(Baca: Dampak Asap Karhutla terhadap Kesehatan: Iritasi hingga Kematian)

Salah satu yang bersuara adalah Pendiri dan Analisis Drone Emprit, Ismail Fahmi. Ia mengatakan, "Sekarang bukan saat yang tepat, malah saat yang buruk buat kampanye sawit. (Karena) Lagi berduka karena kebakaran, yang biasanya dijadikan lahan sawit. Kontraproduktif.” 

Lebih jauh, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wahyudi Akmaliyah mengkritik penggunaan media sosial yang mematikan kepakaran. Meski dapat memberi dampak positif pada keterbukaan informasi, kampanye melalui media sosial dapat membuat peran pakar kalah oleh buzzer.

"Tumbuhnya medsos internet memunculkan figur-figur baru micro-celebrity, inilah buzzer. Kemudian mengakibatkan sejumlah orang dalam ahli tertentu kemudian tenggelam di tengah kuatnya media sosial," kata Wahyudi dalam bedah buku miliknya berjudul "Politik Sirkulasi Budaya Pop" di Jakarta, Senin.

Parahnya, lanjut dia, suara buzzer yang kurang kompeten itu justru lebih dipercaya publik daripada pemikiran para pakar yang derajat keilmuannya lebih tinggi.

(Baca: Video: Hutan Terbakar, Kabut Asap Menyebar)

Sedangkan, menurut Wahyudi, para pakar biasanya kurang aktif di media sosial karena kesibukannya. Ketika para ahli beropini pun, mereka biasa menuliskannya pada jurnal, media massa, dan semacamnya yang kurang interaktif.

Atas fenomena itu, Wahyudi mengajak para pakar, peneliti dan akademisi untuk juga aktif di media sosial guna mengimbangi suara buzzer awam. "Akademisi penting untuk terlibat di media dunia sosial. Kehadiran mereka di medsos penting untuk jadi penyeimbang. Perlu juga bagi akademisi memiliki ketekunan meladeni interaksi para pengikutnya," kata dia.

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan