Gojek Klaim GoFood Kuasai Pangsa Pasar di Asia Tenggara

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Desy Setyowati

19/9/2019, 13.22 WIB

Gojek mencatat transaksi melalui GoFood mencapai 50 juta setiap bulan.

Gojek, GoFood, riset Nielsen, layanan pesan-antar makanan
Katadata/desy setyowati
Ilustrasi, logo baru Gojek. Gojek mengklaim GoFood menguasai pangsa pasar layanan pesan-antar makanan di Asia Tenggara.

Gojek mengklaim layanan pesan-antar makanannya menguasai pangsa pasar di Asia Tenggara. Setidaknya, pasar GoFood mencapai 75% di regional.

Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahjo menjelaskan, klaim itu mengacu pada tiga hal. Pertama, berdasarkan laporan App Annie, pengguna GoFood 1,5 kali lebih banyak dibanding pesaing.

Kedua, kajian Nielsen menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia lebih banyak memilih GoFood. Ketiga, survei internal Gojek menyebutkan bahwa layanan GoFood dinilai lebih berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis mitra.

“Kenapa kami berani sebut 75%? Itu berdasarkan jumlah order dan rerata nilai pesanan by basket size. Kalau dihitung berdasarkan jumlah yang dibayarkan konsumer sebelum promo, itu bukan angka real. Jadi, kami sebut 75% itu angkanya real,” kata dia di Jakarta, Kamis (19/9).

(Baca: Babak Baru Pertarungan Gojek dan Grab di Tiga Layanan)

Catherine menjelaskan bahwa pangsa pasar GoFood di Indonesia cukup besar. Selain itu, ia mengklaim bahwa layanan pesan-antar makanannya juga menguasai pasar di Vietnam.

Di Vietnam, Gojek menghadirkan GoFood sejak tujuh bulan lalu. “Kami jadi pemain terbesar di Ho Chi Minh dan Hanoi,” kata dia. Setidaknya, Gojek sudah menggaet sekitar 70 ribu mitra GoFood di negara tersebut.

Begitu pun di Thailand. Gojek mengklaim layanan pesan-antar makanannya selangkah lagi menjadi yang terbesar. Padahal, GoFood baru hadir di Negeri Gajah Putih lima bulan lalu.

Catherine menyebutkan, transaksi melalui GoFood mencapai 50 juta setiap bulan. Jumlah transaksi itu tumbuh dua kali lipat dalam enam bulan terakhir.

Ia menilai bahwa potensi pasar layanan pesan-antar makanan masih sangat besar. Ia mencatat, konsumen yang menggunakan layanan ini masih sekitar 2% dari total konsumsi makanan secara nasional.

(Baca: Grab Optimistis Raup Untung Lewat GrabFood dalam Jangka Panjang)

Padahal, di Tiongkok jumlahnya mencapai 16% dari total konsumsi makanan mereka. “Kalau kami tumbuh empat kali lipat saja, masih jauh di bawah Tiongkok. Jadi, masih sangat besar (potensi pasarnya),” kata Catherine.

Riset Nielsen Terkait GoFood

Lembaga riset Nielsen menyebutkan bahwa 95% masyarakat Indonesia membeli makanan siap santap dalam tiga bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, 58% di antaranya memesan menggunakan layanan pesan-antar makanan.

Executive Director of Consumer Insight Nielsen Singapura Garick Kea menyebutkan, 84% masyarakat menggunakan lebih dari satu aplikasi menganggap GoFood menawarkan layanan yang lebih baik. “Kenyamanan konsumen merupakan faktor utama,” katanya.

Adapun riset Nielsen ini dilakukan terhadap 1.000 responden di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Balikapapan, Medan, dan Makassar. Responen yang disurvei terdiri dari laki-laki dan perempuan, berusia 18-45 tahun. Survei dilakukan secara online pada 17-29 Mei 2019.

(Baca: Gojek Cari Modal Rp 28,4 Triliun untuk Perkuat GoFood dan GoPay)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan