Kerja Sama Tertunda, Serapan Capex Indofarma hingga Agustus Minim

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Ekarina

19/9/2019, 05.00 WIB

Kerja sama patungan tersebut membutuhkan investasi cukup yang besar, sedangkan kondisi keuangan dalam keadaan tidak sehat.

Sepanjang semester I 2019, Indofarma masih mencatat rapor merah dengan rugi bersih Rp 24,35 miliar.
Indofarma.id
Sepanjang semester I 2019, Indofarma masih mencatat rapor merah dengan rugi bersih Rp 24,35 miliar.

Emiten produsen farmasi, PT Indofarma Tbk (INAF) baru menyerap belanja modal (capital expenditure /capex) sebesar Rp 10 miliar atau 10% dana yang dianggarkan pada awal tahun  sebesar Rp 100 miliar. Minimnya serapan capex itu dikarenakan adanya penundaan terkait pembentukan usaha patungan antara perseroan dengan sejumlah mitra internasional.

Direktur Keuangan PT Indofarma Herry Triyatno mengatakan semula perusahaan berencana membentuk lima usaha perusahaan patungan (joint vanture) bersama mitra bisnis internasional. Adapun kerja sama tersebut, di antaranya mencakup rencana pembangunan pabrik dan pengembangan bisnis produk farmasi dan alat kesehatan. 

Namun, kerja sama patungan tersebut membutuhkan investasi cukup yang besar, sedangkan kondisi keuangan dalam keadaan tidak sehat. "Jadi kami ingin back to basic, benahin dulu masalah yang ada," ujarnya, saat ditemui di Jakarta, Rabu (18/9).

(Baca: Indofarma Tagih Pemerintah Bayar Utang BPJS Sebesar Rp 60 Miliar)

Sebelum membentuk perusahaan patungan, INAF membentuk SBU (Strategic Bussines Unit) terlebih dahulu, dengan mengelompokan produk penjualan menjadi tiga, yaitu Farmasi, Diagnostic & Medical Equipment, Extract & Natural Medicine.

"Kami memasukan extract medicine karena ingin menyasar food and baverage, tidak hanya industri verbal, jadi lebih luas lagi," ungkapnya.

Rencana perusahaan membidik pasar makanan dan minuman telah diinformasikan kepada Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan. Dengan begitu diharapkan, kinerja Indofarma ke depan, tidak hanya berfokus pada alat kesehatan saja.

Adapun untuk kontribusi penjualan, sektor farmasi diperkirakan masih menjadi tulang punggung dengan sumbangan sekitar 60%,  diikuti extract & natural medicine sekitar 20%, dan diagnostic & medical equipment 20%.

Sepanjang semester I 2019, Indofarma masih mencatat rapor merah dengan rugi bersih Rp 24,35 miliar. Sedangkan semester I tahun lalu, perusahaan mampu mencatat laba bersih sebesar Rp 253,19.

(Baca: Indofarma Bidik Rights Issue Setelah Perbaikan Kinerja Keuangan)

Kerugian tersebut salah satunya dipicu oleh turunnya penjualan sebesar  12,04% menjadi Rp 368,81 miliar. Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan sebesar Rp 256,83 miliar atau turun 2,84%.

Sedangkan aset INAF tercatat menyusut dari Rp1,44 triliun pada 2018 menjadi Rp1,4 triliun di semester I 2019. Sedangkan, liabilitas dan ekuitas perseroan masing-masing sebesar Rp927,56 miliar dan Rp472,29 miliar.

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha