Layanan Pesan-Antar Makanan Jadi Tren, Riset Nielsen: GoFood Pionirnya

Penulis: Desy Setyowati dan Tri Kurnia Yunianto

19/9/2019, 15.15 WIB

Nielsen Singapura mengatakan, pasar layanan pesan-antar makanan di Indonesia sangat potensial.

riset nielsen singapura menunjukkan gofood pioner layanan pesan-antar makanan di Indonesia
Gojek
Co-Founder Parentalk.id, Nucha Bachri, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, MEM, Executive Director of Consumer Insight Nielsen Singapura, Garick Kea, Chief Food Officer Gojek Grup, Catherine Hindra Sutjahyo saat konferensi pers terkait tren layanan pesan-antar makanan.

Nielsen Singapura dalam laporannya menyebutkan, layanan pesan-antar makanan mulai menjadi tren di Indonesia. Karena itu, potensi bisnisnya dinilai cukup besar. Salah satu pelopor layanan ini adalah GoFood dari Gojek.

Executive Director of Consumer Insights Nielsen Singapura Garick Kea menyampaikan, GoFood dan GrabFood menjadi layanan yang kian digemari konsumen di Indonesia, khususnya di perkotaan. “Hal yang sangat unik adalah GoFood menjadi pelopor layanan ini,” katanya di Jakarta, Kamis (19/9).

Nielsen Singapura pun melakukan survei terhadap 1.000 responden di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Balikpapan, Medan dan Makassar. Sebanyak 95% di antaranya membeli makanan siap santap dalam tiga bulan terakhir.

Dari jumlah tersebut, 58% di antaranya menggunakan layanan pesan-antar makanan via aplikasi seperti GoFood dan GrabFood. Rerata mereka memesan 2,6 kali lipat per minggu. Berkaca dari data ini, menurutnya layanan pesan-antar makanan sangat potensial.

Ada beberapa alasan yang membuat layanan ini kian diminati. Utamanya, karena menghemat waktu dan tenaga. Lalu, ada banyak promosi. Selain itu, pilihan pembayaran dan jenis makanannya banyak.

(Baca: Gojek Klaim GoFood Kuasai Pangsa Pasar di Asia Tenggara)

Nielsen menyebutkan bahwa GoFood merupakan fitur pada aplikasi yang banyak dipilih konsumen. Pertama, 42% konsumen menilai layanan ini sangat tepat waktu. Kedua, 44% menilai pengemudi ojek online yang ramah. Ketiga, 45% menyebut ada banyak pilihan restoran dan makanan.

Secara keseluruhan, Garick menyebutkan ada tiga alasan konsumen memilih layanan pesan-antar makanan. “Faktor itu adalah kenyaman, promosi, dan apa yang berbeda dibanding layanan serupa lainnya,” kata dia.

(Baca: Babak Baru Pertarungan Gojek dan Grab di Tiga Layanan)

Adapun responden yang disurvei berusia 18-45 tahun dan menggunakan layanan pesan-antar makanan dalam tiga bulan terakhir. Survei dilakukan secara online dengan durasi hingga 25 menit, selama 17-29 Mei 2019. Tingkat kesalahan survei ini (margin of error) 3,1%.

Potensi Bisnis Layanan Pesan-Antar Makanan di Indonesia

Garick mencatat, masih ada 42% konsumen urban di kota besar belum menggunakan layanan pesan-antar makanan dalam tiga bulan terakhir. Ia mengatakan bahwa penetrasi internet mencapai 64,8% dari total penduduk Indonesia.

Lalu, pertumbuhan masyarakat kelas menengah cukup pesat di Tanah Air. Kemudian, ada banyak pekerja kantor yang memesan makanan melalui aplikasi. “Terutama eksekutif muda. Semakin banyak masyarakat Indonesia yang masuk kelas menengah, rela membayar lebih supaya mereka punya waktu lebih banyak,” katanya.

Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahjo menambahkan, transaksi melalui GoFood mencapai 50 juta setiap bulan. Jumlah transaksi itu tumbuh dua kali lipat dalam enam bulan terakhir.

Ia menilai bahwa potensi pasar layanan pesan-antar makanan masih sangat besar. Ia mencatat, konsumen yang menggunakan layanan ini masih sekitar 2% dari total konsumsi makanan secara nasional.

Padahal, di Tiongkok jumlahnya mencapai 16% dari total konsumsi makanan mereka. “Kalau kami tumbuh empat kali lipat saja, masih jauh di bawah Tiongkok. Jadi, masih sangat besar (potensi pasarnya),” kata Catherine.

(Baca: Grab Optimistis Raup Untung Lewat GrabFood dalam Jangka Panjang)

Hal senada disampaikan oleh Regional Head of GrabFood Kell Jay Lim. Ia mengatakan, nilai penjualan bruto (gross merchandise value/GMV) bisnis pesan-antar makanan di perusahaannya tumbuh 900% secara tahunan (year on year/yoy) per Juni 2019. Sedangkan volume pengiriman tumbuh tujuh kali.

Secara keseluruhan, GrabFood menyumbang sekitar 20% terhadap total GMV Grab saat ini. Kontribusi ini naik signifikan dibanding periode sama tahun lalu, yang hanya di bawah 5%.

Saat ini, Grab memiliki sekitar 200 ribu mitra GrabFood. “Ruang untuk (GrabFood) tumbuh masih luar biasa,” kata Lim dikutip dari CNBC Internasional, beberapa waktu lalu (16/9). Apalagi, menurutnya layanan pesan-antar makanan di Asia Tenggara relatif baru dibanding Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data ResearchAndMarkets.com, nilai bisnis layanan pesan-antar makanan secara global mencapai US$ 84,6 miliar sepanjang tahun lalu. Jumlah ini diprediksi naik menjadi US$ 164,5 miliar pada 2024. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa laju pertumbuhan majemuk tahunan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) bisnis ini sekitar 11,4 % selama 2019-2024.

Di Asia, data Statista memperlihatkan bahwa pendapatan industri ini mencapai US$ 58,4 juta sejak awal tahun ini. CAGR pendapatan dari layanan antar-pesan ditaksir 10,5 % sepanjang 2019-2023. Sebagian besar pendapatan ini diraih Tiongkok, yakni US$ 40,2 juta sejak awal 2019.

(Baca: Gojek Cari Modal Rp 28,4 Triliun untuk Perkuat GoFood dan GoPay)

Reporter: Desy Setyowati dan Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan