Ekspor 2020 Diproyeksi Membaik, Penerimaan Bea Keluar Dipatok Rp 2,6 T

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Desy Setyowati

28/9/2019, 07.08 WIB

Ekspor tembaga dari Freeport diproyeksi kembali berjalan normal tahun depan.

harga komoditas diproyeksi membaik, Ditjen Bea dan Cukai meningkatkan target ekspor tahun depan
Arief Kamaludin|KATADATA
Dirjen Bea dan Cukai, Heru Pambudi. Ditjen Bea dan Cukai meningkatkan target ekspor tahun depan.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan, harga komoditas membaik sehingga bisa mendorong ekspor tahun depan. Karena itu, target penerimaan bea keluar ditingkatkan menjadi Rp 2,6 triliun pada 2020.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi mengatakan, kenaikan target ini mempertimbangkan beberapa hal. "Salah satunya, karena harga komoditas sudah mulai recovery tahun depan," kata dia di kantonya, Jakarta, kemarin (27/9) sore.

Selain itu, beberapa tambang sudah mulai beroperasi kembali. Dengan begitu, ekspor komoditas terutama tembaga bisa berjalan normal tahun depan.

Lagipula, menurutnya kenaikan target penerimaan dari bea keluar ini tidak terlalu tinggi. Berdasarkan outlook 2019, pendapatan dari pos anggaran ini diperkirakan mencapai Rp 2,29 miliar. Karena itu, ia optimistis target Rp 2,6 triliun bisa tercapai tahun depan.

(Baca: Ini Tiga Faktor Penentu di Balik Kenaikan Cukai Rokok )

Per Agustus 2019, pendapatan bea keluar sudah mencapai Rp 2,05 triliun. Nilai ini mengalami penurunan 53,25% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 4,38 triliun.

Heru menjelaskan, pendapatan bea keluar yang menurun itu disebabkan oleh harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional yang berfluktuasi tahun ini. Lalu, ekspor tembaga dari Freeport juga menurun karena ada proyek penggalian sumber baru konsentrat tembaga.

(Baca: Berkah Perang Dagang, Pangsa Ekspor Sawit ke Tiongkok Naik Jadi 30%)

Ditjen Bea dan Cukai mencatat, pendapatan bea keluar rerata turun 11,5% sepanjang 2015-2019. Penyebabnya, harga beberapa komoditas ekspor seperti CPO, mineral, rotan, kulit, dan kakao menurun. Heru menilai, penurunan harga disebabkan oleh perlambatan ekonomi.

Heru menjelaskan, bea keluar berfungsi menjaga suplai yang ada di domestik. Ia memproyeksikan, bea keluar akan terus meningkat setiap tahun. "Ini terutama untuk mencegah outflow," kata dia.

Sekadar informasi, bea keluar merupakan salah satu sumber pendapatan dari perdagangan internasional. Pada 2019, realisasi pendapatan pajak perdagangan internasional diperkirakan Rp 39,7 triliun atau lebih rendah 8,2% dari target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)Rp 43,3 triliun.

(Baca: Pertahankan Harga, BPDP Sawit Sepakat Penundaan Pungutan Ekspor)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan