Rupiah Menguat Tipis Ditopang Situasi Dalam Negeri yang Kondusif

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Ratna Iskana

2/10/2019, 10.27 WIB

Rupiah masih berpeluang melemah tergantung pada kondisi politik dalam negeri dan tekanan ekonomi global.

Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA
Uang rupiah dan dollar AS di Gerai Layanan Bank Rakyat Indonesia, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Rupiah menguat tipis saat pembukaan perdagangan pada Rabu (2/10) pagi.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di pasar spot pada Rabu (2/10) menguat 0,02% ke level Rp 14.212 per dolar Amerika Serikat (AS). Saat berita ini ditulis, rupiah naik kembali ke level Rp 14.199 per dolar AS atau 0,11% dibanding penutupan kemarin sore.

Namun, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah bertengger di level Rp 14.207 per dolar AS. Nilai rupiah turun 11 poin dibanding kemarin di level Rp 14.196 per dolar AS.

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai situasi dalam negeri mulai terlihat kondusif. "Tapi pasar masih mewaspadai perkembangan politik yang terjadi," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (2/10).

Apalagi hari ini dikabarkan bakal ada aksi unjuk rasa dari para buruh di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Adapun, pada pukul 10.00 WIB telah dijadwalkan sidang paripurna pemilihan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di gedung MPR/DPR.

Di sisi lain, Ariston mengungkapkan kekhawatiran terhadap pelambatan ekonomi global yang dapat memicu pelemahan rupiah. "Semalam telah dirilis data ISM Manufaktur AS yang di bawah ekspektasi dan masuk ke area kontraksi," ucap dia.

(Baca: Perang Dagang Mereda, Rupiah Melemah ke 14.215 per Dolar AS)

Menurut survei dari Institute for Supply Management (ISM), aktivitas manufaktur AS turun ke level terendah pada September 2019. Ekspor di negeri Paman Sam tersebut terperosok dampak perang dagang dengan Tiongkok yang berlarut-larut.

Indeks aktivitas manufaktur ISM hanya berada di angka 47,8, menyusut selama dua bulan berturut-turut tyang mengindikasikan adanya kontraksi. Sementara ekspektasi para ekonom sebelumnya mematok indeks manufaktur AS berada di angka 50,1. 

Selain rupiah, beberapa mata uang Asia juga ikut menguat. Dolar hongkong dan dolar Singapura masing-masing naik 0,02% terhadap dolar AS, peso Filipina 0,05%, ringgit Malaysia 0,02%, dan baht Thailand 0,01%.

Biarpun begitu, beberapa mengalami mata uang Asia justru melemah. terhadap dolar AS, seperti Yen Jepang turun 0,01%, dolar Taiwan 0,04%, won Korea Selatan 0,38%, rupee India 0,3%, dan yuan Tiongkok 0,36%.

Ariston pun memprediksikan rupiah masih berpotensi melemah. Pelemahan terjadi ke area Rp 14.230 per dolar AS dengan support di kisaran Rp 14.150 per dolar AS hari ini.

(Baca: Ada Perang Dagang & Demonstrasi, Pasar Pilih Dolar AS Ketimbang Rupiah)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan