Pepsi dan Coca-Cola, dari Perang Hingga Kompak Rambah Bisnis Baru

Penulis: Martha Ruth Thertina

3/10/2019, 18.57 WIB

Pendapatan Coca-Cola Company turun sejak 2013, total penurunan 33,65% dalam enam tahun. Sedangkan pendapatan PepsiCo tumbuh tipis setelah turun pada 2015.

Ilustrasi Pepsi
TWITTER @ID_Pepsi
Ilustrasi minuman Pepsi yang diedarkan di pasar Indonesia.

Seorang bocah berjalan ke vending machine yang menjual Pepsi dan Coca-Cola, lalu memencet tombol Coca-Cola. Ia lantas meletakkan dua kaleng Coca-Cola yang dibelinya di tanah. Bocah itu lalu menginjak kedua kaleng tersebut untuk memencet tombol Pepsi. Ternyata, bocah itu ingin membeli Pepsi namun tombolnya terlalu tinggi sehingga membeli dulu dua kaleng Coca-Cola untuk pijakan.

Ini merupakan cerita dalam salah satu iklan yang menunjukkan persaingan terbuka antara Coca-Cola dan Pepsi alias “cola wars”. Keluarnya Pepsi dari pasar Indonesia mengingatkan kembali akan istilah lama itu: “cola wars”. Persaingan memang terus berlanjut, meskipun dari segi branding, survei menyatakan merek Coca-Cola sudah jauh lebih unggul.

Di sisi lain, penurunan konsumsi minuman bersoda telah membuat kedua perusahaan kompak merambah bisnis baru untuk terus bertumbuh. Seiring langkah tersebut, Pepsi mencatatkan kinerja pendapatan usaha yang relatif lebih stabil, berbanding terbalik dengan Coca-Cola yang tampak tertekan dengan pendapatan yang terus turun.

(Baca: Tak Perpanjang Kontrak dengan Indofood, Pepsi Hengkang dari Indonesia)

Mengutip statista.com, pendapatan tahunan PepsiCo tumbuh tipis setelah mengalami penurunan pada 2015. Tahun lalu, pendapatan tercatat US$ 64,66 miliar, naik 1,8% dibandingkan tahun sebelumnya, atau naik 2,53% dalam empat tahun. Saat ini, perusahaan memiliki beragam merek. Sebanyak 60% di antaranya adalah produk makanan, dan sisanya minuman.  

Di sisi lain, pendapatan Coca-Cola Company tercatat terus mosot sejak 2013. Pada 2018, pendapatan tercatat US$ 31,86 miliar, turun 10% dibandingkan periode sama tahun lalu, atau anjlok total 33,65% dalam enam tahun. Saat ini, perusahaan memiliki lebih dari 500 merek, termasuk Sprite dan Columbia Pictures.

(Baca: Siap Hengkang dari RI, Pemerintah Bakal Rayu Pepsi Demi Investasi?)

Meski pendapatan merosot, namun minuman unggulan Coca Cola Company, Coca-Cola, tercatat sebagai merek minuman bersoda paling bernilai di dunia pada 2018. Berdasarkan data yang dikumpulkan statistita.com, nilai merek Coca-Cola mencapai US$ 30,38 miliar, mengalahkan Pepsi yang berada di posisi kedua dengan nilai US$ 20,03 miliar.

Sedangkan merek Sprite yang berada dalam satu payung bisnis dengan Coca-Cola berada di posisi keenam dunia dengan nilai US$ 4,42 miliar, mengalahkan rivalnya Mountain Dew yang satu grup dengan Pepsi. Mountain Dew berada di posisi kedelapan dunia, dengan nilai US$ 3,3 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan