Mendag Dorong Usulan Hari Khusus E-Commerce Jual Produk Lokal

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Martha Ruth Thertina

6/10/2019, 22.22 WIB

Mendag mendorong pelaku e-commerce untuk duduk bersama guna merealisasikan ide tersebut. "Kalau belum siap setiap minggu, mungkin sebulan sekali."

Mendag Majukan Gagasan Hari Khusus E-Commerce Jual Produk Lokal
ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Warga memilih barang-barang belanjaan yang dijual secara daring di Jakarta, Kamis (18/7/2019). Pemerintah tengah mengupayakan pendekatan untuk memungut pajak dari kegiatan ekonomi digital yang dipastikan dengan pengenaan tarif pajak penghasilan dari setiap transaksi ekonomi digital akan tetap sama dengan kegiatan jual beli konvensional.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta para pelaku e-commerce memasarkan lebih banyak produk lokal. Tujuannya, menekan peredaran produk impor. Ia pun menyebut gagasan satu hari khusus dalam seminggu di mana pelaku e-commerce hanya menjual produk lokal.

"Ada gagasan, bagaimana kalau seminggu sekali e-commerce hanya pasarkan produk dalam negeri?" kata dia dalam peresmian program E-Commerce Marketplace Go Global, di Gedung Sarinah, Jakarta, Minggu (6/10).

(Baca: Riset Google: Nilai Ekonomi Digital Indonesia Saat Ini Rp 568 Triliun)

Ia mendorong anak-anak muda pelaku e-commerce untuk duduk bersama guna merealisasikan gagasan tersebut. Ia sendiri belum berencana membuat aturan yang mewajibkan hal tersebut lantaran menilai akan lebih baik jika gagasan itu didasarkan kesadaran sendiri.

"Kalau belum siap setiap minggu, mungkin sebulan sekali pasarkan produk lokal saja," ujarnya. Menurut dia, inisiatif ini juga untuk mendorong semangat From Local to Global dari produk-produk dalam negeri.

(Baca: Disuntik Modal Anak Bank Korea, Valuasi Bukalapak Tembus Rp 35 Triliun)

Ia memahami bahwa untuk merealisasikan lebih banyak produk lokal diperdagangkan pelaku e-commerce, dibutuhkan waktu. Namun, ia menyatakan pemerintah akan terus mencari cara untuk mendorong hal tersebut.

"Tapi kami tetap perhatikan agar tidak langgar WTO. Tapi ada juga yang bodo amat dilaporkan ke WTO karena perlu dilindungi, seperti biodiesel," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan