Pertamina Targetkan Valuasi Kilang Cilacap Tuntas Akhir Tahun

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ekarina

9/10/2019, 18.36 WIB

Pertamina sudah menunjuk pihak ketiga atau independen untuk menghitung valuasi.

Kilang Cilacap
ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

PT Pertamina (Persero) mengharapkan valuasi proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap rampung sebelum akhir tahun. Hal ini dikarenakan, pihaknya masih bernegosiasi cukup alot bersama perusahaan migas Saudi Aramco.

Direktur Utama Nicke Widyawati mengatakan,  hingga saat ini pihaknya masih bernegosiasi bersama Aramco mengenai harga. Padahal, Pertamina sudah menunjuk pihak ketiga atau independen untuk menghitung valuasi.

"Kita tunggu saja hasilnya, diharapkan tahun ini bisa selesai," kata Nicke di Jakarta Convention Center, Rabu (9/10).

(Baca: Pertamina dan Aramco Belum Sepakat, Proyek Kilang Cilacap Mandek)

Kementerian ESDM menyatakan Pertamina dan Saudi Aramco belum sepakat terkait nilai valuasi dan  pemisahan atau spin off  proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap. Sehingga, perjanjian pembentukan perusahaan patungan (join venture development agreement/JVDA) proyek ini pun diperpanjang hingga 31 Oktober 2019.

Senada, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan diskusi mengenai kerja sama pengembangan Kilang Cilacap antara kedua belah pihak terus berlangsung. Namun kedua perusahaan masih berkutat menyelesaikan perhitungan valuasi aset.

"Evaluasi masih berjalan. Penyiapan data dan lain-lain, untuk menghitung angka keekonomiannya," ujar Arcandra saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, kamis (3/10).

Perpanjangan JVDA tersebut merupakan yang ketiga kali. JVDA antara Pertamina dan Saudi Aramco untuk proyek Kilang Cilacap seharusnya berakhir pada September 2019.

(Baca: Pertamina Integrasikan Proyek Langit Biru dengan Kilang Cilacap)

Investasi untuk proyek RDMP Cilacap ditaksir mencapai US$ 5 miliar. Dengan investasi tersebut, kapasitas kilang Cilacap diharapkan meningkat dari 348 ribu barel per hari menjadi 400 ribu barel per hari dengan spesifikasi Euro V, petrokimia dasar (basic petrochemical), dan Group II Base Oil untuk pelumas.

Pertamina dan Aramco tercatat membentuk perusahaan patungan sejak 22 Desember 2016. Pertamina memegang saham sebesar 55 % dan Saudi Aramco sebesar 45%.

Kala itu, Pertamina dan Aramco menargetkan proyek RDMP Cilacap bisa dimulai pada 2021. Namun hingga kini, proyek RDMP Cilacap masih terhalang kesepakatan terkait valuasi dan spin off aset. Di sisi lain, Aramco justru begitu gencar berinvestasi kilang di negara lain, seperti Tiongkok dan Malaysia.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan