DBS Enggan Respons Kabar Akusisi Bank Permata

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Agustiyanti

10/10/2019, 19.02 WIB

DBS Group dikabarkan sudah melakukan valuasi saham Bank Permata.

bank permata
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi. DBS Group dikabarkan akan ikut bersaing memperebutkan saham Bank Permata bersama dua bank asing lain yaitu Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG).

Pergerakan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) pada perdagangan hari ini, ditutup terkoreksi 0,41% menjadi Rp 1.200 per saham. Padahal, pada perdagangan kemarin, sahamnya ditutup naik 2,99%, setelah berkembangnya kabar DBS Group Holding tertarik mengakusisi saham Bank Permata.

Saat ini, sahamnya dimiliki oleh Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk yang masing-masing sebesar 44,56%. Sementara, 10,88% dipegang publik.

Adapun, baik DBS Group maupun Standard Chartered sama-sama kompak tidak mau mengkonfirmasi terkait kabar tersebut. 

Perwakilan DBS Group juga menyatakan pihaknya tidak bisa memberikan komentar atas kabar yang beredar tersebut. "Kami belum dapat memberikan komentar," kata DBS Group saat dikonfirmasi, Kamis (10/10).

(Baca: Profil 3 Bank Raksasa Asia yang Dikabarkan Bidik Saham Bank Permata)

Hal serupa juga dinyatakan oleh Standard Chartered Bank sebagai pemegang saham mayoritas Bank Permata yang dikabarkan akan melepas sahamnya. "Mohon maaf, tapi kami tidak mengomentari spekulasi," kata pihak Standard Chartered dikonfirmasi terpisah.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Permata Ridha D.M. Wirakusumah hingga kini belum menjawab permintaan konfirmasi katadata.co.id. 

Sebelumnya Bloomberg memberitakan DBS Group berniat untuk mencaplok saham Standard Chartered. Bahkan, Berdasarkan sumber Bloomberg, DBS Group bahkan sudah menggandeng penasihat keuangan untuk mengukur valuasi Bank Permata yang diperkirakan mencapai US$ 2,3 miliar atau setara Rp 33 triliun.

(Baca: Perbankan dan Fintech Pembayaran, Bukan Lawan tapi Kawan)


Head of Research RHB Sekuritas Henry Wibowo menilai valuasi harga Rp 33 triliun untuk 100% saham Bank Permata cukup masuk akal. Selain itu, harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) Bank Permata saat ini di level 1,4 kali. "Valuasi itu masuk akal," kata Henry kepada Katadata.co.id, Kamis (10/10).

Ia juga menilai wajar banyak yang berminat mengakuisisi Bank Permata. Pasalnya, bank tersebut dinilai memiliki putasi bagus pada penyaluran kredit di segmen usaha kecil menengah (UKM) dan mencatatkan pertumbuhan  pendapatan yang cukup baik.

" Satu-dua tahun kemarin sudah kelar 'bersih-bersih' dan sekarang dalam proses turnaround," kata Henry.

Per semester I 2019, Bank Permata mampu menurunkan rasio kredit seret alias non-performing loan (NPL) menjadi 3,58% dari periode yang sama tahun lalu yang berada di level 4,36%. Hal itu membuat Bank Permata berhasil mencatatkan pertumbuhan positif dan mengerek laba bersih sebesar 146,28% menjadi Rp 711,39 miliar dari Rp 288,84 miliar pada semester I 2019.

Saat ini, saham Bank Permata dikuasai Grup Astra sebesar 44,56% dan Standard Chartered Bank dengan porsi saham yang sama. Sementara sisanya sebesar 10,88% dikuasai publik. 

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan