GoPay, OVO, GoFood hingga GrabFood Bawa Hoki Bagi Pizza Hut

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Desy Setyowati

11/10/2019, 18.37 WIB

Pizza Hut menargetkan bisa membangun 60 toko baru sepanjang Semester II 2019.

Analis UOB menilai, layanan berbasis digital seperti GoPay, OVO, LinkAja, DANA, GoFood dan GrabFood berkontribusi positif terhadap Pizza Hut
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi Pizza Hut di kawasan Bekasi, Jawa Barat (4/4). Analis UOB menilai, layanan berbasis digital seperti GoPay, OVO, LinkAja, DANA, GoFood dan GrabFood berkontribusi positif terhadap Pizza Hut.

Pengelola restoran Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) menargetkan bisa membangun 60 toko baru sepanjang Semester II 2019. Analis UOB menilai, teknologi finansial (fintech) pembayaran seperti GoPay dan OVO, serta layanan pesan-antar makanan seperti GoFood dan GrabFood membawa keberuntungan bagi PZZA.

Sebab, konsumen memiliki alternatif layanan pembayaran dan pengiriman makanan di Pizza Hut. Kontribusi positif itu terlihat dari pendapatan dan laba bersih yang terus tumbuh.

"Beberapa konsumen sekarang memesan makanan atau minuman menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh startup. Ini telah mengubah perilaku konsumen di Indonesia," demikian dikutip dari laporan UOB Kay Hian, Jumat (11/10).

Pertumbuhan pendapatan dari pengiriman pizza meningkat dari 8,7% (year on year/yoy) pada 2017, menjadi 10,7% tahun lalu. Perusahaan memperkirakan, pendapatan dari layanan ini tumbuh 13-15% tahun ini.

(Baca: GoPay, OVO, LinkAja dan DANA Ungkap Soal Strategi ‘Bakar Uang’)

Sejalan dengan kinerja positif itu, PZZA memperkirakan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earnings before interest, taxes, depreciation and amortization/EBITDA) tumbuh 10-12% tahun ini. Sedangkan margin laba bersih diproyeksi meningkat 5%.

Perusahaan optimistis target itu bisa tercapai. Sebab, laba bersih sepanjang Semester I saja tumbuh 21,6%. Karena itu, Sarimelati menargetkan bisa membangun 60 toko baru pada paruh kedua tahun ini. Dengan begitu, kios-kios anyar ini bisa beroperasi pada 2020.

Emiten dengan kode PZZA itu juga berencana membangun pabrik di Cikarang, Jawa Barat, yang biayanya diperkirakan Rp 100 miliar. Namun, perusahaan sudah menyiapkan belanja modal hingga Rp 500 miliar tahun ini.

Analis UOB menilai, kehadiran layanan berbasis digital baik dalam bentuk pembayaran maupun pesan-antar makanan tidak serta-merta meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan. PZZA memaksimalkan hal itu dengan program loyalitas, seperti diskon hingga 60%.

Karena itu, Pizza Hut bisa memaksimalkan keuntungan dari adanya layanan berbasis digital.  (Baca: Gojek Klaim GoFood Kuasai Pangsa Pasar di Asia Tenggara)

Per Semester I 2019, Pizza memiliki 377 toko yang tersebar di Pulau Jawa. Jumlah tersebut setara 77,8% dari total 499 toko yang dimiliki perusahaan di seluruh Indonesia. Seluruh cabang yang di Pulau Jawa pun menyumbang 72,3% terhadap penjualan.

Adapun perusahaan yang berdiri pada 1987 itu memiliki tiga unit usaha, yakni Pizza Hut Restaurant (PHR), Pengiriman Pizza Hut (PHD), dan Pizza Hut Express (PHE). PHE merupakan format toko baru PZZA yang memiliki konsep lebih kecil dari toko lainnya.

PHE dirancang untuk melayani pelanggan saat bepergian, dengan segmentasi profesional yang sibuk, mahasiswa, dan pelanggan potensial lainnya. Unit bisnis ini mengusung pemesanan makanan dalam hitungan menit.

(Baca: Laba Waralaba Pizza Hut Naik 21%, Raup Rp 99,6 M di Semester I/2019)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan