IHSG Hari ini Diramal Naik, Saham Properti dan Tambang Direkomendasi

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

11/10/2019, 08.10 WIB

IHSG berpotensi naik setelah kemarin terkoreksi tipis karena aksi ambil untung investor.

ihsg hari ini, saham pilihan, rekomendasi saham hari ini
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Jumat (11/10/2019), secara teknikal berpotensi naik. Walaupun pasar masih akan merespon sentimen dari negosiasi dagang AS-Tiongkok yang baru saja mengakhiri pertemuan hari pertamanya.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini, Jumat (11/10), diprediksi bergerak menguat oleh beberapa analis secara teknikal. Prediksi tersebut menandakan, IHSG bakal berbalik naik atau rebound setelah pada perdagangan kemarin ditutup terkoreksi tipis 0,09% menjadi berada di level 6.023,64.

Analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, secara teknikal IHSG hari ini berpotensi bergerak naik. "Ada potensi penguatan (kenaikan) pada pergerakan IHSG hari ini sehingga berpeluang menuju ke resistance terdekat," kata Nafan melalui risetnya.

Menurutnya, resistance pertama maupun kedua pada laju IHSG hari ini memiliki rentang pada level 6.077,33 hingga 6.138,25. Sementara, level support pertama maupun kedua memiliki rentang pada level 5.988,87 hingga 5.907,12.

Ada pun sejumlah rekomendasi saham yang dapat menjadi pertimbangan investor antara lain Adhi Karya (ADHI), Astra International (ASII), Alam Sutera Realty (ASRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Wijaya Karya (WIKA), Waskita Karya (WSKT), dan Wijaya Karya Beton (WTON).

(Baca: IHSG Turun Lagi ke 6.023 Tertekan Aksi Ambil Untung Investor)

Senada, Analis Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi menyampaikan dalam risetnya, secara teknikal diproyeksikan IHSG hari ini bergerak naik. "Dengan level support dan resistance di level 6.000-6.088," kata Lanjar.

Saham-saham yang secara teknikal masih cukup menarik untuk diperhatikan investor menurut Lanjar di antaranya Semen Indonesia Semen Indonesia (SMGR), Chandra Asri Petrochemical (TPIA), Gudang Garam (GGRM), H.M. Smapoerna (HMSP), Bank Negara Indonesia(BBNI), Bank Tabungan Negara (BBTN), Bank Mandiri (BMRI).

Kemudian Sri Rejeki Isman (SRIL), Adaro Energy (ADRO), Indo Tambangraya Megah (ITMG), Vale Indonesia (INCO), Bumi Serpong Damai (BSDE), dan Erajaya Swasembada (ERAA).

Analis Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christoper Jordan juga menyampaikan dalam risetnya, IHSG hari ini berpotensi bergerak menguat. Secara teknikal, diindikasinya IHSG hari ini ada potensi rebound dalam jangka pendek.

(Baca: Katadata Market Index: IHSG Oktober Bearish karena Ekonomi Domestik)

"Pergerakan diperkirakan masih akan terbatas melihat masih minimnya sentimen terutama dari dalam negeri," kata Dennies dalam risetnya. Level resistance pertama dan kedua pada pergerakan IHSG hari ini memmiliki level antara 6.055 hingga 6.039. Sementara, level support pertama dan kedua memiliki rentang di level 6.013 hingga 6.003.

Beberapa rekomendasi saham menurut Dennies dapat diperhatikan oleh investor pada perdagangan hari ini yaitu Vale Indonesia (INCO), Bukit Asam (PTBA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI).

Sementara itu secara fundamental, IHSG dan bursa saham Asia lainnya menantikan hasil positif dari negosiasi dagang lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, yang hari ini memasuki hari terakhirnya. Perundingan dagang hari pertama yang berlangsung Kamis (10/10) di Washington DC, AS, berlangsung hambar lantaran belum membahas isu krusial.

Pada negosiasi dagang kemarin, Reuters melaporkan bahwa kedua belah pihak kemungkinan telah sepakat pada beberapa isu seperti soal nilai tukar dan isu terkait hak cipta. Sementara salah satu isu krusial yakni terkait transfer teknologi perusahaan AS di Tiongkok, belum dibahas. Sebelumnya juga dilaporkan Tiongkok enggan membahas isu tersebut.

Keengganan Tiongkok berdasarkan keyakinan bahwa perusahaan AS melakukan transfer teknologi secara sukarela. Selain itu dari melakukan bisnis di Tiongkok, perusahaan AS telah meraih keuntungan yang sangat besar, mengindikasikan kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.

(Baca: Negosiasi Dagang Buntu Karena Tiongkok Enggan Bahas Transfer Teknologi)

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan