Penyaluran KUR, Darmin Sebut Kredit Macet TKI Paling Tinggi

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

16/10/2019, 13.58 WIB

Hingga Agustus 2019, rasio NPL KUR mencapai 1,3%. Sementara jika mengeluarkan kredit macet TKI, NPL KUR hanya sebesar 0,9%.

Darmin nasution
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyebut NPL KUR hanya mencapai 0,9% jika tak menghitung kredit macet kepada TKI.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut debitur Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjadi salah satu penyumbang terbesar kredit macet pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Meski demikian, total rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) KUR hingga Agustus masih berada di kisaran 1,3%. 

"Yang paling Tinggi NPL-nya itu adalah KUR untuk TKI. Paling susah ditracking kalau TKI sudah meninggalkan Indonesia dan berangkat ke negara bekerja," kata Darmin dalam acara Zilingo di SMESCO Indonesia, Jakarta, Rabu (16/10).

Jika KUR untuk TKI tak dihitung, Darmin menuturkan rasio NPL KUR hingga Agustus hanya mencapai 0,9%.  Adapun sepanjang Januari-Agustus 2019, pemerintah telah menyalurkan KUR sebesar Rp 120 triliun. 

(Baca: Harga Saham Bank BUMN Rontok Akibat Melambatnya Kredit pada Agustus)

Ditemui ditempat yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementeriaan Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir menjelaskan, penyaluran KUR hingga Agustus telah mencapai 72% dari target plafon KUR sebesar Rp140 triliun. Sepanjang tahun ini, KUR telah disalurkan kepada 3,6 juta debitur. 

"Sekarang saja sudah Rp 102 triliun. Setelah kami hitung-hitung (penyaluran KUR hingga akhir tahun bisa sampai Rp 141 triliun. Tapi mungkin karena bank-bank tidak berani sampai 100%, ya mendekati ke Rp 140 triliun itu," ujar Iskandar.

 (Baca: Kolaborasi Fintech Lending dan BPR Berpotensi Turunkan Bunga Pinjaman)

Ia melanjutkan, terdapat beberapa bank yang berminat untuk menambahkan kuota KUR. Maka dari itu, pemerintah berencana mengalihkan kuota penyaluran KUR yang kemungkinan tak mampu mencapai target ke bank yang meminta peningkatan kuota, antara lain BRI dan BNI. 

"Mereka itu sampe minta tambah. BNI minta tambah Rp 2 triliun, BRI Rp 2 triliun. Tapi memang belum kita setujui. Masih kita hitung kembali," ujarnya.

Iskandar menilai, ini pertama kalinya NPL penyaluran KUR  lebih baik dari NPL seluruh kredit secara nasional. Berdasarkan data OJK, rasio total NPL perbankan hinga Agutsus 2019 mencapai 2,66% seperti tergambar dalam grafik di bawah ini.

Adapun sejak dimulai pada Agustus 2015 hingga 31 Agustus 2019 , pemerintah telah menyalurkan KUR  sebesar Rp 435,4 triliun kepada 17,5 juta debitur.

Tahun depan, menurut Iskandar, kuota penyaluran KUR akan dinaikkan sesuai pertumbuhan kredit secara nasional.

"Kayak sekarang kan sekitar 8% rata-ratanya, mungkin nanti akan disalurkan 8 sampai 9% (kenaikan KUR)," tutupnya.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan