Reseller Tiphone Mobile Dapat Kredit Usaha Rp 25 Juta dari BNI

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ratna Iskana

17/10/2019, 17.32 WIB

Tiphone menargetkan ada 250 ribu reseller yang akan mendapatkan fasilitas kredit usaha dari BNI.

Tiphone, BNI
Arief Kamaludin (Katadata)
Ilustrasi, penjualan ponsel. Tiphone berencana memberikan fasilitas kredit kepada 250 ribu reseller. Dana pinjaman didapat dari BNI.

PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) bakal menfasilitasi kredit usaha untuk sekitar 250 ribu reseller  atau penyaluran distribusi produk perseroan. Dana pinjaman bakal didapat dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melalui kredit BNI Wira Usaha (BWU).

Direktur Utama Tiphone Lily Salim menjelaskan BNI akan menyalurkan BWU kepada perorangan atau pelaku usaha kecil dan mikro dengan nilai kredit sampai Rp 25 juta untuk jangka waktu satu tahun.

Pada bulan pertama, Tiphone menargetkan sekitar 5.000 reseller  mendapatkan fasilitas pendanaan tersebut. Sedangkan dalam rentang waktu satu tahun ke depan ditargetkan 50.000 reseller memperoleh kedit wirausaha tersebut.

"Tentu akan ada persyaratan-persyaratan yang ditetapkan untuk memperoleh dana tersebut. Namun, kami akan membantu untuk memfasilitasi bila reseller berminat memperoleh kredit tersebut," kata Lily seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (17/10).

(Baca: Tiphone Potensi Raup Dana Rp 800 Miliar )

Pemberian fasilitas kredit ditandai dengan penandatanganan kerja sama kedua perusahaan oleh Lily dengan Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Jaringan BNI, Tambok P. Setiawati. Tambok mengatakan, saat ini BNI mulai masuk ke layanan digital melalui program BNI Kredit Digital.

Kredit digital tersebut, menurut Tambok, disalurkan kepada masyarakat dan UMKM untuk mempermudah pelaku usaha yang berada di seluruh Indonesia bahkan hingga ke pelosok yang terkoneksi dengan jaringan internet. "Dengan demikian reseller Tiphone Mobile yang ada di seluruh Indonesia dapat memanfaatkan layanan ini dengan mudah," kata Tambok.

Penyaluran kredit BNI pada enam bulan pertama tahun ini pertumbuhannya mencapai 20%, dari Rp 457,81 triliun pada semester pertama 2018 menjadi Rp 549,23 triliun. Namun, hal itu tidak sejalan dengan laba bersih yang hanya tumbuh 2,7% secara tahunan menjadi Rp 7,63 triliun.

(Baca: Harga Saham Bank BUMN Rontok Akibat Melambatnya Kredit pada Agustus)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan