Negosiasi Alot Pemilihan Skema Bagi Hasil Migas Blok NSB

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Martha Ruth Thertina

22/10/2019, 08.24 WIB

Kementerian ESDM kembali memberikan perpanjangan kontrak sementara Blok North Sumatera B (NSB) kepada Pertamina Hulu Energi (PHE).

Blok NSB, Pertamina Hulu Energi
Pertamina Hulu Energi
Ilustrasi Blok Migas

 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali memberikan perpanjangan kontrak sementara Blok North Sumatera B (NSB) kepada Pertamina Hulu Energi (PHE). Kontrak diperpanjang selama 45 hari, berlaku sejak 4 Oktober lalu.

Perpanjangan kontrak sementara ini lantaran Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh masih berdiskusi alot mengenai skema kontrak bagi hasil yang akan diterapkan dalam pengelolaan blok tersebut ke depan.

Pemprov Aceh menginginkan pengelolaan Blok NSB tetap menggunakan kontrak bagi hasil cost recovery. Namun, keinginan tersebut terganjal aturan Kementerian ESDM bahwa blok terminasi habis kontrak menggunakan kontrak bagi hasil gross split.

(Baca: Banyak Kendala, PHE Turunkan Target Investasi Menjadi US$ 366 Juta)

Menanggapi hal tersebut, Praktisi Migas Tumbur Parlindungan menilai pengelolaan Blok NSB lebih cocok tetap menggunakan kontrak bagi hasil cost recovery. Jika pengelolaan dipaksakan menggunakan skema gross split maka akan memberatkan kontraktor.

"Mereka (PHE) itu merasa perlu ada investasi tambahan. Itu kenapa menurut mereka cost recovery lebih menarik karena ketika disuruh pengeboran eksplorasi, mereka juga diminta untuk membangun infrastruktur," kata dia saat ditemui usai acara diskusi di Jakarta, Senin (21/10).

Direktur Utama PHE Meidawati mengatakan pihaknya sudah memberikan perhitungan bisnis dari dua skema kontrak tersebut. Saat ini, pihaknya tengah menunggu arahan pemerintah.

"Kalau kami kasih ke pemerintah kan perhitungan kalau gross split dan cost recovery, ya bagaimana baiknya saja lah. Kalau kami inginnya seperti itu," kata dia saat ditemui di Jakarta, Senin (21/10).

(Baca: SKK Migas Catat Tiga Proyek Migas Terlambat Berproduksi)

Kontrak sementara Blok NSB pertama kali diberikan pada Oktober 2018 dan berlaku hingga 3 April 2019. Kemudian, PHE mendapatkan kontrak sementara kedua yang berlaku mulai 2 Mei 2019 hingga enam bulan ke depan atau hingga awal November 2019.

PHE mengelola Blok NSB sejak Oktober 2015 setelah mengakuisisi hak kelola dari perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ExxonMobil. Blok NSB mulai berproduksi tahun 1977 dengan puncak produksi mencapai sekitar 3.400 juta kaki kubik per hari (MMscfd).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan