RI Jadi Ekonomi Besar Dunia, Chatib Basri Ingatkan soal Produktivitas

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Ekarina

22/10/2019, 07.58 WIB

Pertumbuhan ekonomi menurutnya mustahil bisa tercapai jika tak disertai dengan peningkatan produktivitas.

Ekonom Senior Universitas Indonesai Chatib Basri menyebut Indonesia berpeluang masuk dalam jajaran 10 besar ekonomi dunia pada 2045. Namun, ia mengingatkan soal pentingnya produktivitas ekonomi.
Donang Wahyu | KATADATA
Ekonom Senior Universitas Indonesai Chatib Basri menyebut Indonesia berpeluang masuk dalam jajaran 10 besar ekonomi dunia pada 2045. Namun, ia mengingatkan soal pentingnya produktivitas ekonomi.

Ekonom Senior Universitas Indonesai Chatib Basri menyebut Indonesia berpeluang masuk dalam jajaran 10 besar ekonomi dunia pada 2045 atau usia 100 tahun kemerdekaan. Ini salah satunya disebabkan oleh jumlah penduduk Indonesia yang besar. Kendati demikian, ia juga mengingatkan tentang masalah produktivitas sebagai faktor penting penopang pertumbuhan ekonomi

Berdasarkan survei penduduk antar sensus (Supas) 2015, jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. Menurut jenis kelamin, angka itu terdiri dari 134 juta jiwa laki-laki dan 132,89 juta jiwa perempuan.

Indonesia saat ini sedang menikmati masa bonus demografi, yang mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari usia tidak produktif. Jumlahnya, bisa 68% lebih dari total populasi. 

"Karena kita banyak penduduk. Jadi kalau dia tidak melakukan apa-apa saja ya tetap ekonominya berjalan," kata Chatib dalam acara peluncuran buku di Museum Nasional, Jakarta, Senin (21/10).

(Baca: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global, Bagaimana Prospek RI?)

Meski begitu, ia mengatakan Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. "Ya kan kita tidak mau pertumbuhan ekonomi hanya di  5% saja, kita butuh pertumbuhan jauh lebih tinggi," ucap dia.

Hanya saja, pertumbuhan ekonomi menurutnya  mustahil bisa tercapai jika tak disertai dengan peningkatan produktivitas. Terlebih jika konsolidasi sektor keuangan, industrialisasi hingga persoalan energi tak segera dibereskan. 

Maka, pertumbuhan ekonomi di kisaran 6%-7% akan sulit tercapai. Dengan menggenjot investasi sekali pun, menurutnya masih sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jika tidak disertai peningkatan produktivitas ekonomi.

Sebagaimana diketahui, pemerintah Joko Widodo (Jokowi) tengah gencar mengenjot investasi. Berbagai insentif hingga undang-undang disusun sedemikian rupa demi menggenjot sektor ini.

(Baca: Ekonomi Global Melambat, Menko Darmin Fokus Pacu Investasi)

Jokowi menyatakan mimpinya bahwa Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan kelas menengah. Ia juga menyebutkan, dalam Visi Indonesia 2045 ditargetkan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai US$ 7,3 triliun dan PDB per kapita sebesar US$ 25 ribu.

Selain itu, kemiskinan juga diharapkan dapat mendekati nol dan menjadi negara ekonomi kelima terbesar dunia.

Berdasarkan data dari Bank Dunia, PDB per kapita Indonesia pada 2018 nomor dua terendah di antara negara G20. Jika dihitung berdasarkan PDB keseimbangan kemampuan berbelanja (KKB/Purchasing Power Parity/PPP) per kapita sebesar US$ 13 ribu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan