Unika Atma Jaya Gaet Perusahaan Singapura Rilis Aplikasi Belajar

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Desy Setyowati

28/10/2019, 20.01 WIB

Aplikasi ini dinilai cocok dengan karakteristik milenial.

Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta, Dr A Prasetyantoko dan CEO Knowledge Catalyst, Rudy Rahardjo meluncurkan program microlearning dengan topik pembahasan \\\
atma jaya
Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta, Dr A Prasetyantoko dan CEO Knowledge Catalyst, Rudy Rahardjo meluncurkan program microlearning dengan topik pembahasan \"Financial and Disruption\" melalui aplikasi bernama Gnowbe.

Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menggaet perusahaan pendidikan berbasis digital (edutech) asal Singapura, Knowledge Catalyst meluncurkan aplikasi Gnowbe. Melalui platform ini, mahasiswa bisa berdiskusi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Untuk memperkuat fungsi dari aplikasi tersebut, Unika Atmaja juga meluncurkan program pembelajaran microlearning. “Kami juga mengikuti perubahan dengan mengadopsi teknologi sebagai media belajar,” kata Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko di Jakarta, Senin (28/10).

Tema microlearning pertama yang dipilih adalah finansial krisis dan disrupsi. Melalui aplikasi dan program ini, ia berharap mahasiswa lebih mudah berdiskusi dan mengikuti perkembangan isu terkini.

Mahasiswa di kota atau bahkan negara yang berbeda bisa berdiskusi melalui Gnowbe. Dengan begitu, mahasiswa mengikuti perkembangan kurikulum yang juga beragam. Secara tidak langsung, aplikasi ini dapat menyamakan standar pendidikan.

(Baca: Pengusaha Harap Nadiem Makarim Benahi Pendidikan di Tengah Era Digital)

Selain itu, menurutnya aplikasi dan program ini sesuai dengan karakter milenial yang cenderung enggan belajar dengan banyak buku. Mahasiswa dapat mempelajari materi kapan dan di mana saja, dengan durasi sekitar 10 menit.

Aplikasi tersebut bisa diunduh di App Store maupun Google Play Store. Masyarakat umum pun bisa mengunduh Gnowbe. Dengan begitu, Prasetyantoko berharap ada transfer ilmu dan jaringan (network) antarpeserta diskusi melalui Gnowbe.

"Di Indonesia ada sekitar 4.600 universitas dengan standar pendidikan yang berbeda. Dengan teknologi ini dapat menyamakan standar pendidikan seluruh universitas," kata dia.

(Baca: Adopsi Super Komputer, Tokopedia dan UI Rilis Pusat Kecerdasan Buatan)

Hal senada disampaikan oleh CEO Knowledge Catalyst Rudy Rahardjo. Ia menilai, potensi pendidikan di Tanah Air sangat besar. Namun, masyarakat di beberapa daerah terpencil masih terkendala dalam mengakses layanan pendidikan.

Aplikasi Gnowbe, menurutnya bisa mengatasi persoalan pendidikan di Indonesia. "Melalui e-learning, kita dapat memangkas keterbatasan itu," kata dia. 

Melalui kerja sama dengan Unika Atma Jaya, perusahaannya mengembangkan teknologi baru untuk pemerataan pendidikan. Perusahaannya pun menawarkan solusi utuk penerbitan dan verifikasi dokumen berbasis teknologi blokchain. Dalam hal ini, perusahaannya bekerja sama dengan OpenCerts.

OpenCerts merupakan inisiatif dari Goverment Technology Agency of Singapore yang bertujuan untuk membantu institusi pendidikan dan badan akreditasi menerbitkan sertifikat, ijazah dan transkrip dengan teknologi blokchain. Inisiatif ini diklaim meminimalkan potensi pemalsuan dokumen.

(Baca: Fakultas Ekonomi UI Adopsi Metode Go-Jek untuk Pengajaran)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan