Pasar Pantau Ekonomi AS, Rupiah Melemah 0,03%

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Desy Setyowati

30/10/2019, 17.12 WIB

Beberapa data ekonomi AS tercatat positif. Lantas apa yang diperhatikan pasar?

Rupiah melemah pada penutupan perdagangan hari ini (30/10)
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi, penukaran uang dolar AS di sebuah gerai Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) di Malang, Jawa Timur, Kamis (23/2). Rupiah melemah pada penutupan perdagangan hari ini (30/10).

Nilai tukar rupiah melemah 0,03% ke level Rp 14.030 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini (30/10), berdasarkan data Bloomberg. Analis menilai, pelemahan ini disebabkan oleh pasar yang memantau kondisi perekonomian AS.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah melemah 16 poin ke level Rp 14.044 per dolar AS. Padahal, kemarin rupiah berada pada posisi Rp 14.028 per dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim menilai, perekonomian AS yang masih menggeliat menyebabkan rupiah melemah hari ini. "Rilis data ekonomi AS masih positif mengisyaratkan kemungkinan besar resesi tidak akan terjadi di AS," katanya kepada Katadata.co.id, Rabu (30/10).

Data ekonomi AS itu di antaranya penjualan ritel yang tercermin dari Redbook naik 4,3% secara tahunan (year on year/yoy) pada pekan yang berakhir 26 Oktober. Pertumbuhan ini lebih baik ketimbang pekan sebelumnya.

(Baca: Pasar Tunggu Keputusan The Fed, Rupiah Melemah)

Indeks harga perumahan AS pada Agustus juga naik 2% secara tahunan. Secara spesifik, penjualan rumah bukan baru pada September naik 3,9%, merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak Desember 2015.

Jika situasinya seperti ini, Ibrahim memperkirakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) akan kembali menurunkan suku bunganya. "Namun, yang ditunggu pasar adalah komentar The Fed, apakah masih akan menurunkan suku bunga berikutnya atau tidak," katanya.

Dari sisi domestik, ia mengatakan bahwa pasar menunggu rilis data inflasi Oktober pada akhir pekan ini. Konsensus pasar memperkirakan inflasi bulan ini 3,27% secara tahunan, melambat dibandingkan September 3,39%. Namun masih sesuai dengan ekspektasi pemerintah.

(Baca: Rupiah Dibuka Menguat Berkat Pernyataan Trump soal Kesepakatan Dagang)

Selain itu, pemerintah diperkirakan bakal melakukan reformasi di segala bidang. Sebab, ada beberapa risiko dari global seperti perang dagang AS-Tiongkok, keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit, dan lainnya. Ibrahim menilai, hal-hal yang bakal dilakukan pemerintah adalah reformasi di bidang perpajakan, perizinan dan birokrasi.

Di sisi lain, menurutnya Bank Indonesia (BI) akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) dan saham-saham hipotik atau obligasi di perdagangan Domestic Non Delivery Forward (DNDF). “Dengan begitu, akan membantu untuk menstabilkan mata uang Garuda kembali di harga yang wajar," katanya.

(Baca: Pelaku Pasar Pantau Kesepakatan Dagang, Rupiah Bergerak Melemah)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan