Kepada Sri Mulyani, Bos BCA "Keluhkan" Penerbitan Obligasi Retail

Penulis: Yura Syahrul

Editor: Redaksi

31/10/2019, 16.36 WIB

Sebagian dana simpanan nasabah akan keluar dari perbankan setiap kali pemerintah menerbitkan obligasi retail.

Karyawan menunjukan uang rupiah pecahan 100 ribu dan 50 ribu di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/9/2019). Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada awal pekan ini dibayangi sentimen perang dagang, terkait batalnya kunjungan deleg
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Ilustrasi karyawan menunjukkan uang rupiah pecahan 100 ribu dan 50 ribu di Jakarta, Senin (23/9/2019).

Penerbitan surat utang atau Surat Berharga Negara (SBN) menjadi salah satu instrumen yang diandalkan pemerintah untuk membiayai anggaran negara. Namun, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja mengeluhkan penerbitan SBN kepada investor retail yang selalu berdampak terhadap likuiditas perbankan. Padahal, di pengujung tahun ini, likuiditas di dalam negeri cenderung mengetat.

Menurut Jahja, sebagian dana simpanan nasabah akan keluar dari perbankan setiap kali pemerintah menerbitkan obligasi retail. "Sekitar 20% hingga 30% dana kami 'terbang' ketika ada launching instrumen (SBN) retail oleh pemerintah," katanya saat menyampaikan aspirasinya di hadapan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam acara panel diskusi CEO Networking 2019 di Jakarta, Kamis (31/10).

Hengkangnya sebagian simpanan dana nasabah di bank karena instrumen surat utang yang diterbitkan pemerintah menawarkan bunga yang lebih tinggi. Sedangkan di sisi lain, bank membutuhkan simpanan nasabah untuk meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK).

(Baca juga: Tawarkan Bunga Lebih Rendah, Penjualan ORI016 Tak Capai Target)

Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani menyatakan penerbitan SBN retail adalah salah satu instrumen pendanaan anggaran dana. Meski begitu, dia memahami adanya kondisi crowding out (perebutan dana nasabah) karena perbedaan bunga tersebut. "Kami akan kaji soal ini."

Dalam kesmepatan yang sama, Wimboh menyatakan bahwa dana hasil penjualan surat berharga tersebut akan berputar dan bisa kembali lagi ke bank. "Memang ada time leg-nya (jeda waktu)," ujarnya.

Seperti diketahui, pemerintah baru saja menerbitkan Obligasi Negara Retail (ORI) seri ORI016 sebesar Rp 8,21 triliun. Nilai tersebut di bawah target yang ditetapkan sebesar Rp 9 triliun. ORI016 ditawarkan dengan tingkat kupon atau bunga sebesar 6,8%, jauh lebih rendah dari ORI015 sebesar 8,25%.

(Baca juga: Laba Bersih BCA Naik 13% Meski Kredit Tumbuh Melambat dan Provisi Naik)

Dengan penerbitan ORI016, total realisasi penerbitan SBN retail sepanjang tahun ini mencapai Rp 48,3 triliun. Jumlah ini naik 5,3% dibanding periode sama tahun lalu. Hingga akhir tahun nanti, pemerintah menargetkan penerbitan SBN retail mencapai Rp 51,2 triliun. Pemerintah berencana satu kali lagi menerbitkan SBN retail dalam bentuk sukuk tabungan seri ST006. Penerbitan dijadwalkan pada 1-21 November 2019.

Sementara itu, BI mencatat pertumbuhan DPK hingga September 2019 sebesar 7,1% atau melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 7,3%. Perlambatan DPK terutama terjadi pada giro milik nasabah perorangan dan simpanan berjangka milik korporasi dan perorangan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan