Jokowi Berencana Bangun Kawasan Industri di Dekat Sumur Gas

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Ratna Iskana

1/11/2019, 20.35 WIB

Dengan adanya kawasan industri dekat sumur gas, diharapkan industri bisa mendapatkan harga gas yang lebih murah.

Presiden Joko Widodo
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Presiden Joko Widodo akan membangun kawasan industri dekat sumur gas. Dengan begitu, harga gas untuk industri bisa lebih murah.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah bakal mendesain kawasan industri yang membutuhkan gas. Nantinya, lokasi kawasan industri tersebut bakal didekatkan dengan sumur-sumur gas yang ada di Indonesia.

Dengan begitu, industri dapat semakin efisien. Selama ini, industri tak efisien lantaran harga gas untuk produksi cukup mahal.

"Biar enggak terlalu jauh, ini harus kami desain lagi kawasan industri yang khusus membutuhkan gas," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/11).

Pasalnya, harga gas yang harus dibayar pengguna saat ini bisa mencapai US$ 9-US$ 11 per Million British Thermal Unit (mmbtu). Padahal, harga gas di hulu sekitar US$ 5 per mmbtu.

"Sumurnya harga sekian, kok setelah ke pengguna, ke user, bisa jadi angkanya setinggi itu? Oleh sebab itu, penting menurut saya industri-industri yang berhubungan dengan gas itu mendekati sumur-sumur gas yang ada," kata Jokowi.

(Baca: Jokowi Memastikan Harga Gas Industri Tak Akan Naik)

Jokowi pun sudah memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif untuk mengkaji lagi penyebab tingginya harga gas industri di Indonesia. Jokowi menilai, tingginya harga gas industri bisa saja disebabkan oleh besarnya biaya sewa pipa untuk distribusi.

Selain itu, dia meminta agar sumur gas yang ada di berbagai wilayah Indonesia diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Informasi yang ia peroleh, gas dari sumur gas yang ada di Dumai, Saka Kemang, Bojonegoro, dan Natuna dikirim ke luar negeri.

Padahal, hasil produksi dari berbagai sumur gas tersebut cukup besar dan mampu dimanfaatkan untuk kepentingan dalam negeri. “Sementara ini dibawa ke luar.  Saya sudah perintahkan Menteri ESDM yang baru agar ini mulai dilihat, supaya bisa digunakan untuk kepentingan industri dalam negeri agar lebih efisien,” katanya.

(Baca: Menteri ESDM Incar Penemuan Cadangan Migas Baru)

Produksi dan konsumsi gas Indonesia menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Menurut data British Petroleum (BP), pada 1970 produksi gas domestik hanya 1,1 Million Tonnes oil equivalent/MToe (juta ton setara minyak). Sedangkan konsumsi gas mencapai 1,08 MToe.

Sejak 1977, produksi gas alam menunjukkan tren kenaikan seiring meningkatnya eksplorasi ladang migas. Pada 2018, produksi gas alam nasional naik 0,4% menjadi 62,9 MToe atau setara 73,2 Billion cubic metres (Bcm) dari tahun sebelumnya. Sedangkan konsumsi gas meningkat 1,1% menjadi 33,5 MToe atau setara 39 Bcm. Data selengkapnya terkait produksi dan konsumsi gas di Indonesia dalam grafik Databoks berikut ini : 

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan