Bahas Industri Peternakan, Kadin Soroti Konsumsi Daging Sapi Rendah

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

5/11/2019, 15.07 WIB

Konsumsi daging sapi Indonesia baru 2,6 kilogram per kapita per tahun, lebih rendah dari negara tetangga. Konsumsi daging masih terpusat di kota besar.

konsumsi daging sapi Indonesia, Peternakan
ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Pedagang menunggui sapi dagangannya di Pasar Keppo, Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (5/10/2019).

Kamar Dagang Indonesia (Kadin) menyoroti konsumsi daging sapi yang masih rendah di dalam negeri, khususnya di luar Jawa. Kadin menilai perlunya pengembangan industri peternakan, termasuk hilirisasi, guna mendorong konsumsi.  

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan Juan P. Adoe mengatakan, konsumsi daging sapi masih terpusat di beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, dan Padang.

“Sulawesi dan wilayah timur masih rendah," kata dia dalam Rapat Koordinasi Nasional Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan dan Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan, Jakarta, Selasa (5/11). Ketimpangan konsumsi daging juga terjadi antara kota dan desa.

(Baca: Pangkas Peran Tengkulak, Bulog Jual Beras dan Bahan Pangan Via Online)

Secara keseluruhan, konsumsi daging sapi di Indonesia masih di bawah negara tetangga. Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 269 juta jiwa baru mengkonsumsi daging sapi sebesar 2,6 kilogram per kapita per tahun.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Filipina yang mencapai 3,1 kilogram per kapita per tahun, Malaysia 4,8 kilogram per tahun, dan Vietnam 9,9 kg per kapita per tahun. Ia pun berharap adanya terobosan melalui industri 4.0 untuk mengubah perilaku konsumen.

Lebih jauh, ia menilai perlunya pengembangan dalam peta jalan sektor makanan dan industri pangan. Tujuannya, agar sektor tersebut dapat memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

(Baca: Bulog Batal Impor Daging Sapi Brasil Tahun Ini, Buwas: Mubazir!)

Sejauh ini, kata dia, industri pengolahan daging sebagian besar berada di Jawa. Sedangkan, industri hilir sapi belum berkembang. Ia pun menekankan perlunya investasi di subsektor pangan. Selain itu, akses permodalan yang lebih mudah untuk petani dan peternak.

"Dengan demikian dapat menciptakan nilai tambah keuntungan bagi petani dan peternak," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan