Menko Airlangga Siapkan 15 Jurus Tangkal Perlambatan Ekonomi

Penulis: Rizky Alika

Editor: Agustiyanti

7/11/2019, 18.23 WIB

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomiantelah menyusun 15 program prioritas yang bakal mulai digulirkan dalam enam bulan ke depan.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah menyusun 15 program prioritas yang bakal mulai digulirkan dalam enam bulan ke depan.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyusun 15 program prioritas yang bakal mulai digulirkan dalam enam bulan ke depan. Program-program tersebut diharapkan dapat mendorong ekonomi di tengah perlambatan dunia. 

"Tantangan kita adalah apakah kita bisa menangani persoalan-persoalan yang timbul di tengah perekonomian yang slow down,"  ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartartodia di kantornya, Jakarta, Kamis (7/11).

Program prioritas tersebut antara lain program mandatori B30, perbaikan ekosistem Ketenagakerjaan, jaminan produk halal (JPH), penelitian dan pengembangan industri farmasi, serta Undang-Undang Perpajakan, dan penguatan Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI).

Kemudian perbaikan kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR), penerapan kartu prakerja, pengembangan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), gasifikasi batu bara, pengembangan hortikultura berorientasi ekspor, kemitraan pertanian berbasis teknologi, percepatan elektronifikasi keuangan daerah, green refinery, dan omnibus law cipta kerja.

Program-program tersebut mengangkat tema "Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing" dengan empat kelompok program yang disasar. Salah satunya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas (growth).

(Baca: Data Pertumbuhan Ekonomi Diragukan, BPS: Kami Dicek IMF dan Bank Dunia)

Kemudian program lainnya, meningkatkan pemerataan ekonomi dan pengurangan kesenjangan (inklusif), mendukung keberlanjutan ekonomi (sustainibilty), dan meningkatkan daya saing ekonomi (competitiveness).

Para kementerian di bawah Kemenko Perekonomian pun akan menindaklanjuti program-program tersebut. Rapat koordinasi lanjutan untuk membahas program-program itu pun akan digelar dalam 10 hari ke depan.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono menambahkan, penyusunan program-program tersebut sejalan dengan visi-misi Presiden, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Rencana Kerja dan Angkaran Kementerian/Lembaga (RKA/KL), dan nota keuangan.

Menurutnya, ada beberapa kriteria program yang akan dikoordinasikan oleh Kemenko Perekonomian. Pertama, bersifat strategis dan berdampak luas kepada masyarakat. Kedua, bersifat lintas sektoral dan berimplikasi luas pada kinerja kementerian/lembaga lain.

Ketiga, berskala nasional, penting, strategis, dan berdampak luas ke masyarakat. Keempat atau terakhir, menyerap banyak tenaga kerja, investasi besar, dan high-tech.

(Baca: Tertekan Ekonomi AS dan Global, RI Diramal Hanya Tumbuh 5,2% pada 2020)

Susi mengatakan, menyiapkan telah menyiapkan deskripsi program, sasaran, uraian program, target/indikator kinerja, beserta kerangka waktu pelaksanaan dari masing-masing program.

“Ini akan memudahkan kita dalam menindaklanjuti dan menuntaskan 15 program prioritas dengan baik,” kata Susi.

Dalam rapat koordinasi, turut hadir Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Kemudian, hadir pula Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki, Menteri Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG).

Sebelumnya, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019 hanya mencapai 5,02%, melambat dibanding kuarta] sebelumnya 5,05% maupun periode yang sama tahun lalu 5,17%. Perlambatan ekonomi terlihat dalam grafik di bawah ini. 

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan